Mediamassa.id - Tuhan sering disebut, tetapi jarang benar-benar direnungkan. Nama-Nya hadir di doa, kitab, dan perdebatan, namun makna ketuhanan justru kerap tenggelam di balik suara yang terlalu keras. Dalam keheningan, barangkali Tuhan lebih mudah dirasakan daripada dijelaskan.
Ketuhanan bukan sekadar konsep teologis. Ia adalah pengalaman batin yang tumbuh dari rasa takjub manusia pada kehidupan, pada keteraturan semesta, pada misteri kelahiran dan kematian.
Sebelum manusia mengenal doktrin, ia lebih dulu mengenal rasa: takut, kagum, syukur, dan harap. Dari sanalah kesadaran tentang Yang Maha hadir.
Setiap budaya menamai Tuhan dengan cara berbeda. Ada yang menyebut-Nya dengan banyak nama, ada yang memilih satu nama, ada pula yang hanya merasakan kehadiran-Nya tanpa menyebut sama sekali.
Perbedaan ini bukan kelemahan iman, melainkan cermin dari keterbatasan bahasa manusia. Yang Tak Terbatas memang tak pernah sepenuhnya bisa diringkus oleh kata.
Masalah muncul ketika Tuhan dijadikan milik eksklusif. Ketika ketuhanan yang seharusnya meluaskan kasih justru menyempit menjadi alat pembatas.
Di titik ini, manusia sering lupa bahwa Tuhan tidak membutuhkan pembelaan, apalagi kekerasan atas nama-Nya. Yang sering membutuhkan pembenaran justru ego manusia sendiri.
Refleksi tentang Tuhan seharusnya membawa manusia pada kerendahan hati. Semakin dekat seseorang pada kesadaran ketuhanan, semestinya semakin ia menyadari betapa kecil dirinya.
Bahwa hidup bukan tentang memenangkan argumen iman, tetapi tentang memuliakan kehidupan itu sendiri. Tentang bagaimana manusia memperlakukan sesamanya, alam, dan dirinya sendiri.
Ketuhanan juga tidak selalu hadir dalam ritual besar. Ia bisa terasa dalam kerja yang jujur, dalam menahan amarah, dalam memaafkan tanpa sorotan, dalam kesediaan mendengar penderitaan orang lain.
Barangkali Tuhan lebih sering berdiam di sana—di tindakan-tindakan kecil yang dilakukan dengan niat baik. Dalam perjalanan hidup, tidak sedikit orang yang imannya goyah, bertanya, bahkan meragukan.
Keraguan sering dianggap musuh iman, padahal bisa jadi ia adalah pintu kedewasaan spiritual. Iman yang tidak pernah diuji sering kali rapuh, sementara iman yang lahir dari pergulatan batin justru lebih manusiawi dan membumi.
Tuhan tidak menjauh saat manusia bertanya. Justru dalam pertanyaan yang jujur, manusia sedang mencari dengan sungguh-sungguh.
Ketuhanan yang dewasa tidak takut pada perbedaan tafsir, sebab ia tahu bahwa kebenaran ilahi jauh lebih luas dari pemahaman siapa pun.
Pada akhirnya, berbicara tentang Tuhan adalah berbicara tentang manusia itu sendiri. Tentang bagaimana kita memaknai hidup, menghadapi penderitaan, dan menumbuhkan harapan.
Ketuhanan bukan soal siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan kasih dalam dunia yang sering kali kejam dan tidak adil.
Mungkin Tuhan tidak sedang menunggu kita menyebut nama-Nya dengan sempurna. Barangkali Ia sedang menunggu kita menjadi lebih manusia. (*)