• 07 Feb, 2026

Isra Mi’raj: Ketika Iman Diminta Berdiri Tanpa Tongkat Logika

Isra Mi’raj: Ketika Iman Diminta Berdiri Tanpa Tongkat Logika

Mediamassa.id - Setiap Isra Mi’raj datang, pertanyaan lama selalu muncul—kadang lirih, kadang nyaring, kadang disembunyikan rapat-rapat: “Masa iya Nabi Muhammad SAW naik ke langit dalam semalam?” Pertanyaan itu sering dianggap berbahaya.

Padahal sesungguhnya, ia sangat manusiawi.
Kita hidup di zaman ketika segala sesuatu harus bisa dijelaskan: jarak dihitung, waktu diukur, kecepatan dibuktikan. Kalau tidak logis, dianggap hoaks. Kalau tidak bisa diuji, dianggap lemah.

Maka Isra Mi’raj pun sering diperlakukan seperti kasus sains: dicari pembenar fisikanya, dicocokkan dengan teori relativitas, didekati dengan rumus. Seolah iman baru sah jika lulus uji laboratorium.

Di sinilah Isra Mi’raj terasa satir bagi manusia modern.

Ia menantang cara berpikir kita yang terlalu percaya diri pada logika, seakan akal manusia adalah hakim tertinggi segala kebenaran. 

Padahal sejak awal, Isra Mi’raj tidak pernah datang untuk memenangkan debat rasional. Ia datang untuk menguji iman.

Bahkan di zaman Nabi sendiri, Isra Mi’raj bukan cerita yang mudah diterima. Banyak yang menertawakan. Banyak yang pergi. Bahkan ada yang sebelumnya beriman, lalu ragu. 

Artinya, kebingungan itu bukan milik generasi sekarang saja. Sejak awal, Isra Mi’raj memang tidak ramah pada logika biasa.

Dan justru di situlah letak maknanya.
Iman, dalam Isra Mi’raj, diminta berdiri tanpa tongkat pembuktian ilmiah. 

Diminta percaya bukan karena “masuk akal”, tapi karena percaya pada siapa yang mengalami—Nabi Muhammad SAW. 

Bukan peristiwanya yang menjadi pusat, melainkan kejujuran risalah dan keutuhan kepercayaan.

Ironisnya, kita sering terlalu sibuk membuktikan perjalanan ke langit, tapi lupa pada pesan yang dibawa pulang: shalat.

Kita berdebat soal Buraq, tapi lalai soal disiplin. Kita sibuk mencari pembenaran kosmik, tapi malas mengerjakan kewajiban yang sangat membumi. Isra Mi’raj seakan menyindir kita: “Kalian ingin memahami langit, tapi enggan menata bumi.”

Lebih satir lagi, di era teknologi hari ini, manusia dengan mudah percaya pada hal-hal yang tak pernah ia lihat: sinyal, data, algoritma, bahkan uang digital. 

Kita tidak pernah melihat “internet”, tapi kita yakin ia ada. Kita tidak paham cara kerja satelit, tapi percaya Google Maps saat disuruh belok kiri—meski kadang nyasar. Anehnya, untuk Isra Mi’raj, kita tiba-tiba menuntut bukti ekstra.

Mungkin masalahnya bukan pada Isra Mi’raj yang tidak logis, tapi pada akal kita yang terlalu dimanja oleh kepastian. Kita lupa bahwa tidak semua kebenaran lahir untuk dipahami, sebagian memang hanya untuk diyakini.

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa iman bukan anti-akal, tapi melampaui akal. Ia bukan penolakan pada logika, melainkan pengakuan bahwa logika punya batas. Dan di batas itulah iman bekerja.

Refleksinya sederhana tapi menohok: Jika kita mengaku beriman pada perjalanan Nabi dalam semalam, mengapa begitu berat menjalani shalat lima waktu yang ditetapkan darinya? Jika kita percaya Nabi menembus langit, mengapa kita sulit menundukkan ego?

Isra Mi’raj bukan ujian seberapa pintar kita menjelaskan, tapi seberapa jujur kita percaya. Bukan tentang naik ke langit, tapi tentang turunnya manusia ke kerendahan hati.

Mungkin pada akhirnya, Isra Mi’raj memang tidak datang untuk memuaskan akal, melainkan untuk menertibkan iman—dan menyindir manusia modern yang terlalu percaya pada logikanya sendiri, tapi sering lupa pada Tuhannya.(*)

Larry Weimann

Alice went on, looking anxiously about as curious as it can't possibly make me grow large again.