• 21 Jul, 2026

PMI Garut Gelar Capacity Building untuk Tingkatkan Donor Darah

PMI Garut Gelar Capacity Building untuk Tingkatkan Donor Darah

Mediamassa.id – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Garut menggelar kegiatan Capacity Building bagi para penggerak donor darah dan pengurus PMI kecamatan. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat jaringan relawan donor darah sekaligus meningkatkan pemenuhan kebutuhan darah di Kabupaten Garut yang hingga kini masih belum mencapai target.

Kegiatan tersebut menghadirkan dr. Putri Srihartaty, M.Biomed, Manajer Kualitas Unit Donor Darah (UDD) PMI Pusat, sebagai narasumber utama. Turut hadir Ketua PMI Kabupaten Garut dr. Helmi Budiman dan Kepala UDD PMI Kabupaten Garut dr. Iwan Irawan, bersama para penggerak donor darah dan pengurus PMI kecamatan dari berbagai wilayah di Kabupaten Garut.

311610.jpg

Menurut dr. Putri, capacity building bukan sekadar pelatihan, melainkan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas para penggerak donor darah agar mampu menjadi ujung tombak edukasi di masyarakat.

"Penggerak donor darah dan PMI Kecamatan diharapkan menjadi kepanjangan tangan PMI Kabupaten Garut untuk terus menyosialisasikan pentingnya donor darah, mengajak masyarakat menjadi pendonor sukarela, sekaligus mendorong mereka agar bersedia mendonorkan darah secara rutin," ujarnya, Jumat, (17/7/2026).

Ia menjelaskan, keberadaan pendonor sukarela yang aktif dan berkelanjutan merupakan fondasi utama pelayanan transfusi darah. Ketersediaan stok darah tidak bisa hanya mengandalkan donor insidental ketika ada permintaan dari rumah sakit, tetapi harus ditopang oleh pendonor yang datang secara rutin sesuai jadwal.

Kesadaran Donor Darah Terus Meningkat

Dalam paparannya, dr. Putri menyampaikan bahwa kesadaran masyarakat untuk mendonorkan darah terus menunjukkan tren positif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Masyarakat kini semakin terbiasa datang langsung ke UDD PMI maupun mengikuti kegiatan donor darah melalui mobil unit yang diselenggarakan di berbagai wilayah.

311577.jpg

Fenomena yang paling menggembirakan adalah meningkatnya partisipasi generasi muda. Remaja dan kalangan muda mulai aktif menjadi pendonor darah. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar mengajak mereka donor untuk pertama kali, tetapi menjaga agar mereka tetap menjadi pendonor darah yang rutin dan lestari.

"Pendonor reguler menjadi kunci keberlangsungan stok darah. Karena itu mereka harus terus dimotivasi agar tetap mendonorkan darah secara berkala," jelasnya.

Kebutuhan Darah Garut Masih Belum Terpenuhi

Meski kesadaran masyarakat meningkat, kebutuhan darah di Kabupaten Garut masih jauh dari ideal.

Mengacu pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebutuhan darah minimal di suatu daerah mencapai sekitar 2 persen dari jumlah penduduk setiap tahun.

Berdasarkan laporan Kepala UDD PMI Kabupaten Garut, kebutuhan darah di Garut diperkirakan mencapai sekitar 14.000 kantong darah. Namun hingga saat ini pemenuhannya baru sekitar 58 persen, sehingga masih terdapat kekurangan yang cukup besar.

Kondisi tersebut menjadi tantangan serius karena darah merupakan komponen medis yang tidak dapat diproduksi secara buatan dan sepenuhnya bergantung pada kesediaan masyarakat untuk mendonorkan darahnya secara sukarela.

Kekurangan stok darah berpotensi memengaruhi pelayanan bagi pasien yang membutuhkan transfusi, mulai dari korban kecelakaan, pasien operasi, ibu melahirkan dengan perdarahan, hingga penyandang talasemia yang harus menjalani transfusi darah secara berkala.

Karena itu PMI terus mengajak masyarakat untuk memanfaatkan layanan donor darah di UDD maupun melalui mobil unit yang rutin hadir di berbagai lokasi.

Meluruskan Anggapan PMI "Menjual Darah"

Dalam kesempatan tersebut, dr. Putri juga meluruskan persepsi yang masih berkembang di masyarakat mengenai anggapan bahwa PMI menjual darah.

Menurutnya, darah yang didonorkan masyarakat diberikan secara sukarela tanpa dipungut biaya. Namun ketika darah digunakan oleh pasien, terdapat Biaya Penggantian Pengolahan Darah (BPPD).

BPPD bukanlah harga darah, melainkan biaya yang digunakan untuk memastikan darah yang diterima pasien benar-benar aman dan memenuhi standar medis.

Proses tersebut meliputi penyediaan kantong darah steril, pengambilan darah, pemeriksaan laboratorium terhadap empat penyakit infeksi menular melalui transfusi, yakni HIV, Hepatitis B, Hepatitis C, dan sifilis.

Setelah itu darah masih diproses menjadi berbagai komponen, seperti sel darah merah, plasma, dan trombosit, kemudian disimpan pada peralatan khusus dengan suhu yang terkontrol sebelum akhirnya didistribusikan kepada rumah sakit.

Seluruh rangkaian tersebut membutuhkan peralatan modern, bahan habis pakai, tenaga kesehatan, listrik, sistem penyimpanan, distribusi, hingga pengendalian mutu.

"Darahnya gratis karena berasal dari pendonor sukarela. Yang dibayarkan adalah biaya pengolahan agar darah tersebut aman, bermutu, dan layak diberikan kepada pasien," terang dr. Putri.

Operasional PMI Masih Mengandalkan Kemandirian

“PMI merupakan organisasi kemanusiaan yang bukan lembaga pemerintah. Meski regulasi memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk mendukung operasional PMI, pada praktiknya tidak seluruh daerah mampu memberikan dukungan anggaran secara optimal,” kata dr. Putri.

Akibatnya, banyak UDD PMI harus mengelola operasional secara mandiri. “Biaya yang dikeluarkan tidak hanya untuk pelayanan sehari-hari, tetapi juga investasi jangka panjang seperti pengadaan alat kesehatan, pemeliharaan gedung, kendaraan mobil unit donor darah, hingga berbagai peralatan laboratorium yang nilainya sangat besar,” jelasnya.

Karena itulah BPPD menjadi salah satu sumber pembiayaan penting agar pelayanan transfusi darah tetap berjalan sesuai standar nasional.

Kolaborasi Menjadi Kunci

Ketua PMI Kabupaten Garut dr. Helmi Budiman menegaskan bahwa penguatan kapasitas para penggerak donor darah merupakan bagian dari strategi PMI Garut dalam memperluas edukasi kepada masyarakat sekaligus meningkatkan jumlah pendonor sukarela.

311579.jpg

Sementara itu, Kepala UDD PMI Kabupaten Garut dr. Iwan Irawan menekankan bahwa kebutuhan darah akan selalu ada setiap hari. Karena itu, kolaborasi seluruh elemen masyarakat menjadi sangat penting agar ketersediaan darah tetap terjaga dan pelayanan kepada pasien tidak terganggu.

311605.jpg

Melalui kegiatan capacity building ini, PMI Kabupaten Garut berharap lahir semakin banyak agen-agen kemanusiaan di tingkat kecamatan yang mampu mengedukasi masyarakat, menggerakkan kegiatan donor darah, sekaligus menjaga keberlanjutan pendonor sukarela di Kabupaten Garut.

Menutup kegiatan tersebut, dr. Putri mengajak seluruh masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menjadi pendonor darah sukarela secara rutin.

"Jadilah pahlawan kemanusiaan. Dengan mendonorkan darah secara rutin, kita ikut menyelamatkan nyawa sesama. Mari bersama-sama membantu PMI Kabupaten Garut memenuhi kebutuhan stok darah agar semakin banyak masyarakat yang dapat tertolong," pungkasnya. (*)

Atribusi: Wawancara dengan dr. Putri Srihartaty, M.Biomed (Manajer Kualitas UDD PMI Pusat), dr. Helmi Budiman (Ketua PMI Kabupaten Garut), dan dr. Iwan Irawan (Kepala UDD PMI Kabupaten Garut) pada kegiatan Capacity Building Penggerak Donor Darah PMI Kabupaten Garut, Jumat, 17 Juli 2026.