• 18 May, 2026

Kuba Siaga Militer di Tengah Memanasnya Tekanan AS

Kuba Siaga Militer di Tengah Memanasnya Tekanan AS

Havana, mediamassa.id — Pemerintah Kuba mulai meningkatkan kesiapsiagaan nasional di tengah memanasnya hubungan dengan Amerika Serikat serta krisis energi yang semakin membebani kehidupan masyarakat.

Tekanan ekonomi yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat kondisi di Havana semakin sulit. Pemadaman listrik massal dilaporkan terjadi berkali-kali setiap hari akibat kelangkaan bahan bakar dan terganggunya pasokan energi nasional.

Krisis tersebut tidak hanya memukul aktivitas rumah tangga, tetapi juga berdampak pada operasional perkantoran pemerintah dan fasilitas umum. Sejumlah gedung negara bahkan disebut mengalami keterbatasan bahan bakar untuk menjalankan generator cadangan.

Di tengah situasi itu, pemerintah Kuba mulai meminta pengelola gedung pemerintahan menyusun rencana darurat guna mengantisipasi kemungkinan eskalasi konflik dengan Amerika Serikat.

Atmosfer siaga semakin terasa setelah Direktur CIA John Ratcliffe melakukan kunjungan mendadak ke Havana. Kedatangan pejabat intelijen tinggi AS itu mengejutkan banyak warga Kuba karena berlangsung saat hubungan kedua negara berada dalam kondisi sensitif.

Bagi Kuba, CIA memiliki sejarah panjang yang penuh ketegangan. Pada era Fidel Castro, badan intelijen Amerika tersebut pernah dikaitkan dengan berbagai operasi rahasia dan upaya menggulingkan pemerintahan revolusioner Kuba.

Pemerintah Kuba menegaskan negaranya tidak menjadi ancaman bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Pernyataan itu disampaikan sebagai tanggapan terhadap tekanan politik dan blokade minyak yang masih diberlakukan Washington.

Sementara itu, media pemerintah Kuba mulai menampilkan berbagai latihan militer dan simulasi pertahanan sipil. Konsep yang digunakan mengacu pada doktrin “perang seluruh rakyat” yang pernah dikembangkan Fidel Castro untuk menghadapi kemungkinan invasi asing.

Strategi tersebut berfokus pada mobilisasi masyarakat sipil dan pertahanan gerilya untuk menghadapi serangan dari luar negeri.

Meski sebagian besar persenjataan Kuba merupakan peninggalan era Uni Soviet, sejumlah pengamat menilai kekuatan militer negara itu tidak bisa diremehkan. Sejarawan militer Hal Klepak menyebut Kuba masih memiliki kemampuan mobilisasi pertahanan yang kuat, terutama dalam mengorganisasi masyarakat sipil saat situasi darurat.

“Mereka telah menunjukkan, seperti yang telah kita lihat berulang kali dalam bencana alam, bahwa mereka mampu memobilisasi penduduk dan mengevakuasi warga,” ujar Klepak.

Ketegangan terbaru ini kembali menunjukkan bahwa hubungan Kuba dan Amerika Serikat masih dibayangi konflik geopolitik panjang sejak era Perang Dingin hingga sekarang. (*)

Artikel ini diolah dan dikembangkan dari laporan serta sejumlah sumber internasional terkait perkembangan situasi Kuba dan Amerika Serikat.