Mediamassa.id — Ekonomi Iran menunjukkan ketahanan di tengah tekanan konflik geopolitik dan sanksi internasional yang berkepanjangan. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa meskipun tertekan, aktivitas ekonomi Iran masih berjalan dengan berbagai penyesuaian.
Laporan Reuters pada akhir April 2026 menyebutkan bahwa ekonomi Iran belum mengalami kolaps dan masih mampu bertahan dalam situasi konflik yang berlangsung. Dalam laporan tersebut, Reuters menilai bahwa ekonomi Iran “terbukti lebih tangguh dari perkiraan meskipun menghadapi sanksi dan tekanan militer.”
Analis senior dari Chatham House, Sanam Vakil, dalam analisis yang dikutip Reuters pada April 2026, menyatakan bahwa ketahanan Iran tidak terlepas dari pengalaman panjang dalam menghadapi sanksi ekonomi.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah Iran telah mengantisipasi tekanan jangka panjang dan menyesuaikan strategi ekonominya. Menurutnya, Iran telah membangun kemampuan bertahan melalui diversifikasi jalur perdagangan dan penguatan ekonomi domestik.
Data yang dilaporkan Reuters pada periode yang sama menunjukkan bahwa Iran masih mempertahankan aktivitas ekonomi melalui jalur perdagangan alternatif. Ekspor energi tetap berjalan dalam skala terbatas, terutama ke kawasan Asia, serta melalui mekanisme perdagangan tidak langsung.
Selain itu, Iran memperkuat perdagangan lintas darat dengan negara tetangga seperti Irak dan Turki untuk menjaga arus barang tetap stabil di tengah pembatasan jalur laut.
Seorang pejabat bank sentral Iran, sebagaimana dilaporkan Reuters pada April 2026, menyatakan bahwa cadangan devisa dan emas masih menjadi salah satu penopang stabilitas ekonomi negara tersebut.
“Iran terus mengandalkan sumber daya domestik dan jalur perdagangan alternatif untuk menopang perekonomiannya,” demikian laporan Reuters.
Dari sisi makroekonomi, International Monetary Fund (IMF) dalam pembaruan proyeksi 2026 mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Iran tetap berjalan meskipun dalam tekanan, dengan sektor nonmigas menjadi salah satu penopang utama.
IMF juga mencatat konsumsi domestik masih berperan penting dalam menjaga aktivitas ekonomi, terutama di tengah terbatasnya akses terhadap sistem perdagangan global.
Tekanan inflasi masih tinggi. Data yang dirangkum berbagai lembaga internasional menunjukkan inflasi Iran berada di kisaran 40–50 persen dalam periode 2025–2026, mencerminkan tekanan harga yang signifikan.
Meski demikian, pemerintah Iran dinilai telah melakukan berbagai langkah stabilisasi, termasuk pengendalian harga, subsidi domestik, serta peningkatan produksi dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan impor.
Reuters dalam analisisnya pada April 2026 juga mencatat bahwa posisi geografis Iran memberikan keunggulan strategis, terutama terkait pengaruhnya terhadap jalur distribusi energi global seperti Selat Hormuz.
“Iran masih memiliki daya tawar strategis dalam pasar energi global,” tulis Reuters dalam laporan tersebut.
Selain itu, Iran juga memperkuat hubungan ekonomi dengan negara-negara yang tidak sepenuhnya mengikuti sanksi Barat, termasuk melalui skema perdagangan bilateral dan penggunaan mata uang non-dolar.
Di tengah tekanan tersebut, sektor domestik dan ekonomi informal turut menjadi penopang penting dalam menjaga aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun demikian, tantangan tetap ada. Reuters mencatat pada periode yang sama bahwa tekanan terhadap nilai tukar rial, inflasi tinggi, serta keterbatasan akses ke sistem keuangan global menjadi hambatan utama bagi pertumbuhan jangka panjang.
Meski menghadapi tekanan tersebut, kombinasi antara sumber daya domestik, pengalaman menghadapi sanksi, serta strategi adaptasi ekonomi membuat Iran tetap mampu bertahan di tengah konflik yang berlangsung. (*)
Sumber: Reuters (April 2026), International Monetary Fund (Outlook 2026), Chatham House.