• 07 Feb, 2026

Review Ngadabrul Sabtu Malam: Ngobrol Panjang, Kopi Nanggung, Kepala Penuh

Review Ngadabrul Sabtu Malam: Ngobrol Panjang, Kopi Nanggung, Kepala Penuh

Mediamassa.id - Sabtu malam, 11 Januari 2026. Bukan jam emas televisi, bukan pula prime time konten rapi. Kamera nyala, suara belum tentu stabil, obrolan langsung jalan. Ngadabrul dimulai tanpa hitung mundur yang sok penting.

Di layar muncul wajah-wajah yang tidak asing buat yang sering nongkrong di skena: Man Jasad, Billy Inhell, Adon Ruang Senang, Joy Tutab, Aris Kharisma, Gege, Husin/Niti dari Jellybox Reef Tank, dan Nia Bayet. 

Tidak ada yang datang bawa title. Semua duduk setara. Seperti nongkrong di teras, cuma beda medium.
“Sebenernya capek juga ya ngomongin idealisme terus,” celetuk salah satu. Yang lain ketawa. Obrolan pun ngalir.

Man Jasad tidak banyak basa-basi. Bicara soal hidup di musik keras, tapi nadanya santai. Tidak menggurui. Lebih ke cerita orang yang sudah lama jalan dan tahu kapan harus ngerem. “Bertahan itu bukan soal keras-kerasan,” kurang lebih begitu arahnya.

Billy Inhell masuk dengan cerita-cerita yang tidak selalu nyaman. Soal pilihan hidup, soal skena yang kadang kejam, kadang penuh solidaritas. Tidak dibikin dramatis. Dibiarkan mentah. Justru di situ rasanya dapet.

Giliran Adon Ruang Senang nimbrung. Ada tawa, ada candaan soal peran, soal orang yang lebih percaya karakter di TV daripada orang aslinya. “Kadang di tongkrongan, orang lebih jujur daripada di lokasi syuting,” katanya. Yang lain manggut-manggut.

Joy Tutab bicara seperlunya. Seperti main drum: tidak banyak gerak, tapi tepat. Soal musik yang sekarang cepat sekali dituntut ini-itu. Soal konsistensi yang sering tidak kelihatan. Tidak heroik, tapi nyata.

Aris Kharisma datang dengan humor khas tongkrongan. Nyeletuk di momen yang pas. Obrolan yang mulai berat ditarik turun lagi ke bumi. Tertawa sebentar, lanjut mikir lagi.

Di tengah obrolan musik dan skena, Husin/Niti dari Jellybox Reef Tank lempar cerita yang agak belok: dari skateboard, dari laut, dari merawat karang. Anehnya, nyambung. “Merawat karang itu kayak ngerawat komunitas,” kurang lebih begitu. Pelan, sabar, dan tidak bisa instan.

Nia Bayet tidak banyak memotong. Lebih sering menyimak, lalu masuk dengan pertanyaan ringan yang bikin obrolan lanjut ke arah yang tidak diduga. Kadang pertanyaan sederhana memang paling bikin mikir.

Sementara Gege tidak terlihat sibuk memandu. Lebih seperti tukang jaga tongkrongan. Kalau obrolan melebar, dibiarin. Kalau mulai macet, ditarik sedikit. Tidak ribut, tapi terasa.

Potongan Tanya Jawab & Momen Nongkrong

“Masih relevan nggak sih skena hari ini?”
Jawabannya tidak seragam. Ada yang bilang relevan kalau jujur. Ada yang bilang skena itu sikap, bukan tempat.
Soal musik dan umur

Tidak ada yang sok muda. Tidak ada yang sok senior. Semua sepakat: badan boleh capek, tapi kepala jangan mati.

Tentang hidup di luar panggung

Obrolan melebar ke kerjaan lain, ke dapur, ke hidup sehari-hari. Skena tidak selalu soal panggung.

Humor receh sebagai penyelamat

Di tengah obrolan berat, candaan selalu datang tepat waktu. Biar kepala tidak terlalu penuh.
Ngadabrul malam itu tidak ditutup dengan kesimpulan. 

Tidak ada rangkuman poin-poin. Kamera mati begitu saja. Seperti tongkrongan yang bubar karena besok masih harus bangun. Dan mungkin memang begitu seharusnya.

Bukan acara untuk dicatat semua. Tapi untuk dirasakan.

Datang santai. Pulang mikir dikit. (*)

Gea Ilmi Girindra Ramdhani

Gea Ilmi Girindra Ramdhani adalah seorang penulis yang tidak sekadar merangkai kata, tetapi juga meramu satire dengan presisi seorang ahli racik kopi: pahit, tajam, dan bikin ketagihan. Dengan gaya menulis yang menggelitik, ia mampu menguliti absurditas sosial, membongkar hipokrisi pejabat, dan menyoroti realitas dengan cara yang membuat pembaca tertawa getir—antara ingin marah atau bertepuk tangan. Di tangannya, setiap kata adalah peluru, setiap paragraf adalah tamparan halus bagi siapa saja yang masih percaya dunia ini adil.