• 07 Feb, 2026

Kebenaran yang Relatif, Budaya, dan Pentingnya Saling Menghormati

Kebenaran yang Relatif, Budaya, dan Pentingnya Saling Menghormati

Mediamassa.id - Sejak manusia mulai hidup berkelompok, kebenaran tidak pernah berdiri tunggal. Ia tumbuh, bergeser, dan dimaknai berbeda-beda, tergantung ruang, waktu, dan kebudayaan yang melingkupinya. 

Apa yang dianggap benar di satu komunitas, bisa dipandang keliru di komunitas lain. Di sinilah kita mengenal apa yang disebut kebenaran yang relatif.

Relativitas kebenaran bukan berarti semua hal menjadi serba bebas tanpa nilai. Ia justru lahir dari kenyataan bahwa manusia hidup dalam latar belakang budaya, sejarah, pengalaman, dan sistem nilai yang tidak seragam. 

Cara seseorang memandang dunia sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia dibesarkan, bahasa yang ia gunakan, tradisi yang ia jalani, serta memori kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Budaya adalah rahim tempat kebenaran tumbuh. Ia membentuk cara berpikir, cara menilai baik dan buruk, pantas dan tidak pantas, benar dan salah.

Dalam masyarakat agraris, misalnya, kebersamaan dan gotong royong menjadi kebenaran sosial yang dijunjung tinggi.

Sementara dalam masyarakat industri, efisiensi dan individualitas sering dipandang sebagai nilai utama. Keduanya tidak salah, hanya lahir dari konteks yang berbeda.

Masalah muncul ketika satu kebenaran merasa paling sahih, lalu meniadakan kebenaran lain. Ketika sudut pandang pribadi, kelompok, atau budaya tertentu dipaksakan sebagai kebenaran mutlak. Di titik inilah konflik, perpecahan, bahkan kekerasan sering berawal. 

Bukan karena perbedaan itu sendiri, melainkan karena ketidakmauan untuk mengakui bahwa orang lain berhak memaknai dunia dengan caranya sendiri.

Menghargai kebenaran yang relatif bukan berarti kehilangan prinsip. Justru sebaliknya, ia menuntut kedewasaan berpikir. 

Kita tetap boleh meyakini nilai yang kita pegang, tetapi tanpa merasa perlu merendahkan, menghakimi, atau menghapus nilai orang lain. Ada perbedaan antara keyakinan yang teguh dan arogansi kebenaran.

Saling menghormati menjadi kunci hidup bersama dalam masyarakat yang majemuk. Menghormati bukan berarti menyetujui semua hal, melainkan mengakui kemanusiaan orang lain beserta latar belakangnya. 

Menghargai bukan berarti mengalah, tetapi memberi ruang bagi perbedaan untuk hidup tanpa saling melukai.

Dalam dunia yang semakin terbuka—dengan media sosial yang mempercepat perjumpaan antarbudaya—kesadaran akan relativitas kebenaran menjadi semakin penting. 

Tanpa itu, perbedaan mudah berubah menjadi pertengkaran, dan perdebatan berubah menjadi permusuhan. Kita lupa bahwa di balik setiap pendapat, ada manusia dengan pengalaman hidup yang tidak sama dengan kita.

Pada akhirnya, kebenaran sejati bukanlah tentang siapa yang paling keras bersuara, tetapi siapa yang paling mampu memahami. Budaya mengajarkan kita bahwa manusia tidak hidup sendirian. Kita tumbuh bersama, berbeda bersama, dan hanya bisa bertahan jika saling menjaga rasa hormat.

Menghargai perbedaan bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kematangan peradaban. Karena masyarakat yang besar bukanlah yang seragam dalam kebenaran, tetapi yang mampu hidup damai di tengah keragaman makna. (*)

Reinhold Christiansen

Queen in a pleased tone. 'Pray don't trouble yourself to say to itself in a melancholy air, and.