Mediamassa.id - Di Indung Tunggul Wulung, seni tidak pernah benar-benar sunyi. Ia berbicara lewat warna, lewat gestur tangan yang berlumur cat, juga lewat obrolan pendek yang kadang terdengar lebih jujur daripada pidato panjang.

17 Februari 2026, ruang ini kembali menjadi saksi ketika para perupa Garut berkumpul dalam Live Painting: Warna-warni Duduluran.
Sejak pagi, kanvas-kanvas disandarkan di dinding. Sebagian masih kosong, sebagian lain mulai dipenuhi sapuan awal—ragu, tipis, lalu semakin berani. Tak ada aba-aba resmi.

Semua berjalan organik, seolah setiap orang sudah tahu apa yang harus dilakukan: melukis dan bertemu.
Man Jasad, salah satu tuan rumah, berdiri sambil memperhatikan kanvas-kanvas yang mulai “hidup”. Suaranya pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.

“Di sini, kita nggak lagi bicara siapa paling senior atau siapa paling dikenal,” ujarnya. “Begitu kuas menyentuh kanvas, kita semua sama. Sama-sama belajar jujur pada diri sendiri.”
Bagi Man Jasad, Indung Tunggul Wulung memang tidak didirikan untuk menjadi ruang pamer yang kaku.

Ia membayangkannya sebagai rumah—tempat orang datang bukan untuk dihakimi, tapi diterima. Duduluran, baginya, adalah praktik sehari-hari, bukan jargon acara.
Tak jauh dari sana, Allboni menyiapkan karyanya. Sesekali ia berhenti, menatap kanvas, lalu menambahkan warna dengan tenang. Ketika ditanya tentang tema acara, ia tersenyum kecil.
“Duduluran itu bukan soal selalu sepakat,” katanya.

“Justru kita bisa beda, tapi tetap duduk di ruang yang sama. Melukis bareng, tertawa bareng. Itu yang sekarang makin mahal.”
Obrolan mengalir ringan di antara para perupa. Agus Bachtiar sesekali bercanda soal warna yang “kebablasan”, sementara Tantowi Johari memilih bekerja lebih sunyi, membiarkan karyanya berbicara.

Enceng A.G dan Usep Saepurohman terlibat diskusi singkat tentang lanskap Garut yang terus berubah—antara ingatan masa kecil dan kenyataan hari ini.
Di sudut lain, Wildan D’will menimpali dengan refleksi sederhana, “Live painting itu jujur. Kalau salah, ya kelihatan salah. Tapi dari situ justru kita tahu arah.”

Kejujuran itulah yang terasa kuat sepanjang acara. Tidak ada upaya menutupi proses. Tumpahan cat, garis yang diulang, bahkan kebimbangan sesaat menjadi bagian dari cerita yang boleh disaksikan siapa saja.
Bagi SARAGA (Sanggar Seni Rupa Garut), acara ini bukan hanya soal menampilkan karya, melainkan merawat ekosistem.

Hilmi Miel menyebutkan bahwa ruang-ruang seperti ini penting agar seniman tidak tercerabut dari konteks sosialnya. “Seni itu bukan menara gading,” katanya. “Ia tumbuh dari obrolan, dari pertemuan, dari saling percaya.”
Menjelang sore, karya-karya mulai menemukan bentuk akhirnya. Kanvas-kanvas itu berdiri berjajar, masing-masing membawa cerita, tetapi terikat oleh satu rasa: kebersamaan. Man Jasad kembali menatap sekitar, kali ini dengan senyum yang lebih lepas.
“Kalau pulang nanti, mungkin kita lupa detail lukisannya,” ujarnya. “Tapi rasa hari ini—rasa duduluran—itu yang mudah-mudahan tinggal lama.”

Dan mungkin, itulah yang ingin disampaikan Warna-warni Duduluran. Bahwa seni tidak selalu harus selesai dalam bingkai.
Kadang ia cukup hadir sebagai peristiwa—sebagai pertemuan manusia dengan manusia, di ruang yang memberi mereka izin untuk menjadi diri sendiri. (*)