• 14 May, 2026

Rupiah Sentuh Rp17.500 per Dolar AS, Ini Rekam Jejak Krisisnya

Rupiah Sentuh Rp17.500 per Dolar AS, Ini Rekam Jejak Krisisnya

Rupiah Sentuh Rp17.500 per Dolar AS, Ini Rekam Jejak Krisisnya

Jakarta, mediamassa.id – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus level psikologis Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Mei 2026. Tekanan terhadap mata uang Garuda tersebut disebut sebagai salah satu pelemahan terdalam dalam sejarah modern pasar keuangan Indonesia.

Berdasarkan data perdagangan pasar valuta asing pada Selasa (12/5/2026), rupiah sempat bergerak di kisaran Rp17.505 per dolar AS. Angka tersebut menjadi rekor pelemahan baru secara intraday dan memperpanjang tren tekanan yang telah berlangsung sejak awal tahun.

Pelemahan rupiah kali ini dipicu kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari luar negeri, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong investor global memburu aset aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah Amerika Serikat. Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait memanasnya situasi dengan Iran turut memperbesar kekhawatiran pasar global.

Ketegangan di sekitar Selat Hormuz juga menambah tekanan terhadap pasar energi dunia. Jalur strategis tersebut diketahui menjadi lintasan utama distribusi minyak dan gas global. Kondisi itu membuat harga minyak dunia kembali melonjak dan memperkuat indeks dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.

Di dalam negeri, pelaku pasar juga menyoroti kondisi fiskal nasional, arus modal asing, serta kebijakan suku bunga global yang masih tinggi. Kombinasi tersebut menyebabkan tekanan terhadap rupiah belum mereda hingga pertengahan Mei 2026.

Namun, kondisi pelemahan rupiah bukan pertama kali terjadi dalam sejarah Indonesia. Dalam beberapa dekade terakhir, rupiah telah mengalami sejumlah fase krisis yang meninggalkan dampak besar terhadap ekonomi nasional.

Pada Agustus hingga Oktober 1997, Indonesia mulai memasuki fase awal krisis moneter Asia. Saat itu, nilai tukar rupiah merosot tajam dari kisaran Rp2.500 menjadi sekitar Rp3.000 per dolar AS.

Tekanan spekulatif yang besar membuat Bank Indonesia akhirnya melepas sistem kurs terkendali dan beralih ke mekanisme nilai tukar mengambang bebas. Krisis tersebut kemudian berkembang menjadi krisis ekonomi nasional yang memaksa Indonesia meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF).

Kondisi semakin memburuk pada Mei hingga Juni 1998. Saat krisis politik dan sosial memuncak, rupiah sempat menyentuh kisaran Rp16.800 per dolar AS secara intraday.

Kerusuhan besar di berbagai daerah, ketidakpastian politik nasional, hingga mundurnya Presiden Soeharto membuat investor menarik dana secara besar-besaran dari Indonesia. Periode tersebut masih dikenang sebagai salah satu masa tergelap dalam sejarah ekonomi Indonesia.

Tekanan terhadap rupiah kembali muncul pada April 2001 saat konflik politik nasional memanas di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Nilai tukar rupiah kala itu bergerak di kisaran Rp10.500 hingga Rp12.000 per dolar AS.

Sementara pada 2008, krisis finansial global akibat runtuhnya Lehman Brothers membuat rupiah melemah hingga menembus Rp12.000 per dolar AS. Investor global ramai-ramai keluar dari negara berkembang dan memindahkan aset ke dolar AS.

Pada Maret 2020, pandemi Covid-19 menyebabkan kepanikan pasar global. Rupiah sempat menyentuh Rp16.550 per dolar AS akibat arus keluar modal asing dan ketidakpastian ekonomi dunia.

Tekanan kembali terjadi pada 2024 hingga 2025 seiring kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve AS, perang dagang, hingga konflik geopolitik global. Memasuki 2026, tekanan semakin besar ketika rupiah menembus level Rp17.000 dan terus mencetak rekor pelemahan baru.

Bank Indonesia menegaskan tetap memprioritaskan stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya volatilitas global. Kebijakan suku bunga dan intervensi pasar disebut terus dilakukan guna menjaga kepercayaan pasar dan kestabilan ekonomi nasional.

Meski demikian, sejumlah analis menilai tekanan terhadap rupiah masih akan dipengaruhi perkembangan geopolitik dunia, arah kebijakan bank sentral AS, serta kondisi ekonomi domestik dalam beberapa bulan ke depan. (*)


Atribusi:
Artikel ini diolah dan disusun ulang berdasarkan data pergerakan nilai tukar dari Google Finance; perdagangan valuta asing, serta sejumlah sumber ekonomi dan pasar global terkait perkembangan nilai tukar rupiah Mei 2026.