• 24 Jul, 2026

Roy T.U.T.A.B: Ketika Drum Menjadi Jantung T.U.T.A.B

Roy T.U.T.A.B: Ketika Drum Menjadi Jantung T.U.T.A.B

Mediamassa.id – Dalam sebuah band punk rock, drummer sering kali menjadi orang yang paling sedikit berbicara ketika lampu panggung mulai menyala. Namun justru dari belakang perangkat drum, ia menentukan bagaimana sebuah lagu berlari, berhenti, lalu kembali menghantam penonton. Di T.U.T.A.B, peran itu dijalankan oleh Roy.

Bergabung bersama band punk rock asal Garut yang telah berdiri sejak 1996 tentu bukan perkara ringan. T.U.T.A.B sudah memiliki karakter yang kuat, sejarah panjang, dan basis pendengar yang tumbuh bersama lagu-lagunya sejak era 1990-an. Namun Roy tidak pernah melihat dirinya sebagai sosok yang datang untuk mengubah arah band.

Ia justru datang untuk menjaga ritme yang telah dibangun selama hampir tiga dekade.

"T.U.T.A.B sudah punya karakter sejak lama. Saya tinggal menyesuaikan diri dan memberikan tenaga yang saya punya supaya band ini tetap enak dimainkan dan tetap hidup di atas panggung," ujar Roy.

Di balik sikapnya yang tenang, Roy dikenal sebagai pemain drum yang disiplin. Ia memahami bahwa dalam musik punk, kecepatan bukan satu-satunya ukuran. Yang jauh lebih penting adalah menjaga tempo tetap stabil agar energi setiap lagu bisa sampai kepada penonton.

Menurutnya, drummer bukan sekadar orang yang memukul drum sekeras mungkin.

"Main cepat itu bukan tujuan. Yang penting lagunya hidup. Kalau temponya berantakan, energi lagunya juga ikut hilang."

Pandangan itu membuat Roy selalu mempersiapkan diri sebelum tampil. Latihan menjadi bagian penting yang tidak pernah ia anggap sepele. Baginya, setiap pertunjukan adalah tanggung jawab, sekecil apa pun panggungnya.


Bergabung dengan T.U.T.A.B juga membuat Roy belajar banyak tentang arti bertahan.

Ia masuk ke dalam sebuah band yang anggotanya telah berteman sejak puluhan tahun. Di dalamnya sudah ada Bono, Emoh, Joy, dan Eza yang masing-masing memiliki cerita panjang bersama T.U.T.A.B.

Alih-alih merasa canggung, Roy justru merasakan suasana kekeluargaan yang kuat.

"Yang saya rasakan sejak awal itu bukan cuma latihan musik. Kami banyak ngobrol, bercanda, saling mengingatkan. Jadi rasanya memang seperti keluarga."

Suasana itulah yang menurut Roy membuat T.U.T.A.B mampu bertahan hingga sekarang.

Band ini tidak hanya dipersatukan oleh lagu, tetapi juga oleh hubungan yang sudah terbangun sejak lama.

"Kalau cuma soal main musik, mungkin banyak yang bisa. Tapi menjaga hubungan sampai puluhan tahun itu yang tidak mudah."


Di atas panggung, Roy dikenal sebagai penggebuk drum yang bertenaga.

Ia menjadi penggerak tempo dalam lagu-lagu T.U.T.A.B, baik materi lama maupun lagu-lagu baru yang cenderung lebih agresif.

Ketika Joy kembali bergabung pada 2018, pembagian peran berlangsung secara alami. Joy lebih banyak membantu Bono di lini vokal, sementara Roy mengambil porsi lebih besar di belakang drum.

Menurut Roy, keberadaan Joy justru menjadi keuntungan bagi band.

"Senang rasanya bisa main bareng Joy. Kami saling mengisi. Lagu-lagu lama yang memang lebih lekat dengan Joy tetap terasa hidup, sementara saya juga belajar banyak dari pengalaman beliau."

Bagi Roy, tidak ada persaingan.

Yang ada hanyalah bagaimana T.U.T.A.B tetap tampil maksimal.


Perjalanan T.U.T.A.B selama hampir tiga dekade juga memberi Roy pandangan baru tentang skena bawah tanah.

Ia melihat banyak perubahan dibanding beberapa tahun lalu.

Promosi kini jauh lebih mudah, rekaman semakin terjangkau, dan banyak band baru bermunculan dengan karya yang cepat dikenal melalui media sosial.

Namun di balik semua kemudahan itu, Roy berharap satu hal tidak ikut hilang.

"Menurut saya, yang paling penting tetap rasa saling mendukung. Dulu maupun sekarang, skena bisa hidup karena orang-orangnya mau saling bantu."

Baginya, panggung bukan tempat untuk saling bersaing, melainkan ruang bertemu, berbagi karya, dan memperkuat komunitas.

Karena itulah ia selalu menikmati setiap kesempatan tampil, baik di hadapan ratusan penonton maupun dalam gigs kecil yang sederhana.

"Selama masih ada panggung, sekecil apa pun, kami tetap akan main dengan serius."


Bagi Roy, menjadi bagian dari T.U.T.A.B bukan hanya soal memainkan drum.

Ia ikut menjaga perjalanan sebuah band yang telah menjadi bagian dari sejarah punk Garut.

Band yang tetap bertahan melewati pergantian zaman, perubahan personel, hingga bergesernya tren musik.

Di balik dentuman drum yang terdengar sederhana, ada tanggung jawab untuk memastikan setiap lagu tetap memiliki tenaga yang sama seperti ketika pertama kali dimainkan bertahun-tahun lalu.

"Selama teman-teman masih semangat latihan, masih ada yang mengundang kami manggung, dan masih ada orang yang mau bernyanyi bersama T.U.T.A.B, saya rasa perjalanan ini belum selesai."

Roy mungkin tidak banyak berbicara di atas panggung.

Namun setiap hentakan bass drum, dentuman snare, dan pukulan cymbal yang ia mainkan menjadi penanda bahwa denyut T.U.T.A.B masih terus berjalan.

Selama tempo itu tetap terjaga, semangat punk yang dibangun sejak 1996 akan terus bergerak, melintasi generasi demi generasi. (*)

Sumber: Wawancara bersama Roy T.U.T.A.B, Garut, Mei 2026.