1988: Ketika Patti Smith Menyanyikan Kemungkinan
Patti Smith, 1978 — sepuluh tahun sebelum 'People Have the Power' Kredit Foto: UCLA Library Special Collections.
Disarankan:
Mediamassa.id — Musik tidak selalu berhenti ketika suara ampli dimatikan. Kadang, sebuah lagu justru baru mulai bekerja setelah didengarkan—ketika liriknya dibongkar, konteksnya dibaca ulang, dan kegelisahan yang disembunyikannya mulai dibicarakan.
Itulah yang hendak dilakukan dalam “MALIRÉ PRESENT: Bedah Lirik Lagu GARONG by Voice of Baceprot”, Senin, 17 Agustus 2026, di Toko Buku Maliré, Otista Korner Lantai 2, Garut.
Acara yang dimulai pukul 15.30 WIB hingga selesai ini bukan sekadar forum musik. “GARONG” akan ditempatkan di meja bedah sebagai teks: dibaca, ditafsirkan, sekaligus dipertemukan dengan realitas sosial yang melatarbelakanginya.
GARONG sendiri merupakan karya terbaru Voice of Baceprot (VoB), trio metal asal Garut yang beranggotakan Marsya, Widi, dan Sitti. Lagu ini membawa kritik terhadap korupsi, kolusi, dan nepotisme—tiga kata yang sudah terlalu sering muncul dalam berita, pidato politik, dan percakapan publik, tetapi mungkin belum cukup sering dibongkar dari akar persoalannya.
Dalam forum Maliré, pertanyaannya menjadi lebih liar:
Apa sebenarnya yang sedang “digarong”?
Uang negara? Kekuasaan? Kesempatan? Hak masyarakat? Atau bahkan masa depan generasi yang sejak awal tidak pernah ikut menentukan bagaimana sistem itu dibangun?
Table of contents [Show]
Forum ini menghadirkan Rofi Jaelani, jurnalis dan peneliti; Voice of Baceprot sebagai musisi; serta Akmal Firmansyah, jurnalis BandungBergerak.
Komposisi pembicaranya menarik.
Ada musisi yang mengalami proses kreatif dari dalam. Ada jurnalis yang terbiasa membongkar peristiwa melalui fakta. Dan ada peneliti yang melihat karya dalam konteks sosial yang lebih luas.
Mereka akan bertemu di satu meja untuk membicarakan sebuah lagu.
Bukan untuk mencari tafsir tunggal, melainkan membuka kemungkinan pembacaan lain terhadap “GARONG”.
Sebab musik bawah tanah sejak awal tidak terlalu akrab dengan jawaban yang sudah disiapkan.
Ia lebih senang meninggalkan pertanyaan.
Dan “GARONG” menyediakan cukup banyak pertanyaan untuk itu.
Korupsi, kolusi, dan nepotisme bukan istilah baru. Ketiganya bahkan sudah begitu akrab dalam sejarah politik Indonesia.
Yang lebih berbahaya justru ketika masyarakat mulai terbiasa.
Ketika penyalahgunaan kekuasaan hanya dianggap sebagai berita hari ini yang akan dilupakan besok. Ketika praktik bagi-bagi kepentingan dianggap sebagai mekanisme yang memang harus dijalani. Ketika orang mulai berkata, “Memangnya ada yang tidak begitu?”
Di titik itulah kritik dalam “GARONG” menjadi relevan.
Bukan sekadar menunjuk siapa yang salah, tetapi mempertanyakan sistem macam apa yang memungkinkan praktik tersebut terus hidup.
Dan jika sistemnya terus memelihara masalah yang sama, barangkali yang perlu dibedah bukan cuma pelakunya.
Tetapi sistemnya.
Yang membuat acara ini semakin menarik adalah waktunya.
17 Agustus 2026. Hari ketika Indonesia genap 81 tahun merdeka.
Saat sebagian besar orang merayakan kemerdekaan dengan upacara, lomba, bendera, dan berbagai seremoni, Maliré memilih menghabiskan sore dengan membedah lirik lagu tentang korupsi, kolusi, dan nepotisme.
Agak nyeleneh. Dan justru karena itu menarik. Sebab kemerdekaan juga layak dibicarakan dari sisi yang tidak selalu nyaman.
Apa arti merdeka ketika sebagian hak masih bisa dirampas? Apa arti demokrasi ketika kekuasaan dapat dipelihara oleh kepentingan yang sama?
Dan apa arti masa depan jika sistem yang diwariskan kepada generasi berikutnya masih memelihara penyakit lama?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang membuat sebuah lagu bisa melampaui durasi tiga atau empat menit.
Voice of Baceprot selama ini dikenal tidak memisahkan musik dari kegelisahan sosial. Mereka memainkan metal, tetapi tidak menjadikan genre itu sekadar urusan distorsi, tempo, dan suara keras.
Metal bagi mereka juga menjadi bahasa. Bahasa untuk marah. Bahasa untuk bertanya. Bahasa untuk menolak diam.
Melalui “GARONG”, bahasa itu kembali digunakan untuk menguliti persoalan yang barangkali sudah terlalu sering dibicarakan, tetapi belum pernah benar-benar selesai.
Dan pada sore 17 Agustus nanti, lagu tersebut akan diturunkan dari panggung ke ruang diskusi.
Tidak ada panggung besar.
Tidak ada karpet merah.
Tidak ada jarak antara musisi dan pendengar.
Hanya sebuah toko buku, beberapa orang yang membawa kegelisahan masing-masing, dan satu lagu yang akan dibongkar dari lirik hingga konteksnya.
Acara ini juga membawa misi solidaritas.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Maliré membuka penggalangan bantuan untuk korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dengan begitu, musik dan diskusi tidak berhenti sebagai wacana.
Ada upaya untuk mengubah kegelisahan menjadi tindakan konkret.
Barangkali memang begitulah semestinya ruang-ruang bawah tanah bekerja.
Membicarakan yang tidak nyaman. Membongkar yang dianggap biasa. Lalu melakukan sesuatu setelahnya.
Senin sore, 17 Agustus 2026, “GARONG” akan dibedah di Toko Buku Maliré, Otista Korner Lantai 2, Garut.
Bukan untuk mencari siapa paling pintar membaca lirik.
Tapi untuk melihat apakah dari sebuah lagu, kita masih bisa menemukan keberanian untuk bertanya:
Siapa sebenarnya yang sedang digarong—dan sistem macam apa yang membuatnya terus terjadi? (*)
Patti Smith, 1978 — sepuluh tahun sebelum 'People Have the Power' Kredit Foto: UCLA Library Special Collections.