Mediamassa.id – Di balik keberhasilan dua atlet Garut, Atsyal Moch Rajab dan Aurellia Caltha Acmela, menjadi juara Kejuaraan Nasional (Kejurnas) BMX Freestyle 2026, ada sosok yang selama lebih dari satu dekade memilih bertahan di balik layar. Ia adalah Bayu Ningrat, pelatih yang terus menjaga nyala BMX Freestyle Garut di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya perhatian.

Perjalanan Bayu tidak dimulai sebagai pelatih. Ia tumbuh bersama komunitas BMX Freestyle Streetplayers, sebuah komunitas yang ia dirikan tahun 2002; ruang berkumpul sekaligus belajar bagi para rider di Garut. Seiring waktu, Bayu menyadari bahwa komunitas saja tidak cukup untuk membawa atlet melangkah lebih jauh.
Karena itu, Streetplayers kemudian bertransformasi dan bergabung ke dalam Asosiasi BMX Indonesia (ABI) agar memiliki legalitas dalam proses pembinaan atlet dan dapat mengikuti sistem kompetisi secara lebih terstruktur.
"Awalnya kami hanya komunitas. Lalu kami berproses agar memiliki legalitas melalui Asosiasi BMX Indonesia. Dari sana pembinaan atlet mulai kami jalankan dengan lebih serius," ujarnya.
Sejak 2013, Bayu mulai aktif membina atlet BMX Freestyle di Kabupaten Garut. Saat itu, olahraga ini belum banyak dikenal masyarakat. Bahkan, BMX Freestyle lebih sering dipandang sebagai sekadar hobi anak muda daripada cabang olahraga yang mampu menghasilkan prestasi.
Hal itulah yang membuat Bayu memilih tetap bertahan.
"Bagi saya, tujuan utamanya sederhana, bagaimana BMX Freestyle bisa dikenal masyarakat dan mendapat tempat sebagai olahraga yang layak dikembangkan," katanya.
Membina Atlet dengan Sarana Seadanya
Lebih dari sepuluh tahun membina atlet, Bayu mengaku tantangan terbesar bukan mencari bibit berbakat, melainkan keterbatasan sarana dan prasarana.

Menurutnya, hingga hari ini pembinaan BMX Freestyle di Garut masih berjalan dengan kondisi yang sangat minim.
"Kendala terbesar kami adalah sarana dan prasarana. Bahkan terkadang kami merasa seperti dipandang sebelah mata," ungkapnya.
Padahal, berbeda dengan cabang olahraga lain, BMX Freestyle membutuhkan lintasan dan rintangan khusus agar atlet dapat mengembangkan teknik dengan aman dan maksimal.
Yang paling dibutuhkan saat ini, kata Bayu, bukan sesuatu yang muluk-muluk, melainkan sebuah BMX Park yang layak dijadikan pusat latihan.
Ia meyakini keberadaan fasilitas tersebut akan mengubah wajah pembinaan BMX Freestyle di Garut.
"Kalau Garut punya BMX Park yang representatif, saya yakin potensi atlet bisa berkembang hingga 85 persen. Bibitnya sudah ada, tinggal didukung fasilitas yang memadai," tuturnya.
Mengenal Dua Juara Nasional
Di mata Bayu, setiap atlet memiliki karakter yang berbeda.
Ia menggambarkan Atsyal Moch Rajab sebagai atlet yang cepat menyerap materi latihan atau easy learning. Apa yang diajarkan pelatih relatif cepat dipahami dan diterapkan di lapangan.

Sementara Aurellia Caltha Acmela memiliki karakter yang berani dan tidak mudah terbebani tekanan.
"Aurellia itu nothing to lose. Dia berani mencoba dan tidak takut menghadapi tantangan," katanya.
Menurut Bayu, keberhasilan keduanya menjadi juara nasional bukanlah sebuah kebetulan.
"Itu hasil perjuangan keras dan penuh pengorbanan."
BMX Bukan Sekadar Mengejar Medali
Di balik latihan dan target prestasi, Bayu selalu menanamkan filosofi sederhana kepada para atletnya.

"Jadikan BMX sebagai olahraga sekaligus sarana bersilaturahmi."
Baginya, BMX Freestyle bukan hanya soal kompetisi, tetapi juga tentang membangun persaudaraan, saling menghormati, dan tumbuh bersama dalam komunitas.
Filosofi itu pula yang membuat banyak atlet tetap bertahan meski harus berlatih dengan fasilitas terbatas.
Menatap PON hingga Olimpiade
Meski pembinaan masih jauh dari ideal, Bayu memilih tetap menatap masa depan dengan optimistis.
Target yang ia pasang bukan hanya melahirkan juara nasional, tetapi mengantarkan atlet Garut tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON), SEA Games, bahkan suatu hari nanti mampu menembus Olimpiade.
Ia juga menilai Jawa Barat sebenarnya memiliki kekuatan untuk bersaing dengan provinsi lain yang sudah lebih dulu memiliki fasilitas lengkap.
Karena itu, Bayu berharap BMX Freestyle tidak lagi dipandang sebagai olahraga pinggiran.
Saat ditanya pesan kepada pemerintah daerah, Bayu justru menjawab santai.
"Saya cuma ingin ngopi bareng."
Kalimat singkat itu menyiratkan harapan agar ada ruang dialog antara pelaku olahraga ekstrem dan para pengambil kebijakan. Sebab menurutnya, membangun prestasi tidak selalu dimulai dari anggaran besar, tetapi dari kesediaan untuk mendengar kebutuhan para atlet dan pelatih.
Di ujung pembicaraan, Bayu mengungkapkan satu mimpi yang masih ia simpan.
"Saya ingin punya pemimpin yang sejalan dengan teman-teman di skena olahraga ekstrem."
Sebuah harapan yang sederhana, tetapi mungkin menjadi fondasi penting agar prestasi seperti yang diraih Atsyal dan Aurellia tidak berhenti sebagai cerita sesaat, melainkan menjadi awal lahirnya generasi baru atlet BMX Freestyle dari Garut. (*)
Sumber: Wawancara mediamassa.id dengan Bayu Ningrat