Mediamassa.id – Hari Lahir Bung Karno yang diperingati setiap 6 Juni tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa dan pemikiran Sang Proklamator, tetapi juga kesempatan untuk mengaktualisasikan nilai-nilai perjuangannya dalam kehidupan nyata. Hal itulah yang dilakukan Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Fraksi PDI Perjuangan, Yudha Puja Turnawan, dengan menggelar kegiatan donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis di Gedung DPRD Kabupaten Garut, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan yang terselenggara atas kerja sama dengan PMI Kabupaten Garut dan Puskesmas Haurpanggung tersebut mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Sejak pagi hari, warga dari berbagai kalangan berdatangan untuk mendonorkan darah maupun memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang disediakan panitia.
Mahasiswa, pemuda, relawan sosial, kader organisasi kemasyarakatan hingga masyarakat umum tampak berbaur dalam satu semangat kemanusiaan. Bagi Yudha Puja Turnawan, inilah wajah gotong royong yang sesungguhnya, sebuah nilai yang menjadi inti pemikiran Bung Karno dan ruh dari Pancasila.

"Ketika Bung Karno menyampaikan Pancasila pada 1 Juni 1945, beliau menyebut bahwa jika diperas menjadi satu sila, maka intinya adalah gotong royong. Donor darah adalah salah satu bentuk gotong royong modern. Kita membantu sesama tanpa memandang suku, agama, golongan maupun latar belakang. Setetes darah yang kita berikan bisa menjadi harapan hidup bagi orang lain," ujar Yudha.
Menurutnya, peringatan Hari Lahir Bung Karno tidak boleh berhenti pada seremoni dan romantisme sejarah semata. Nilai-nilai perjuangan Bung Karno harus diwujudkan dalam tindakan konkret yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

Yudha menjelaskan, kebutuhan darah di Kabupaten Garut masih cukup tinggi. Darah sangat dibutuhkan untuk membantu pasien yang menjalani operasi, korban kecelakaan, ibu melahirkan dengan komplikasi, hingga para penyandang thalasemia yang harus menjalani transfusi darah secara rutin sepanjang hidup mereka.
"Kita ingin membangun kesadaran bahwa donor darah bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah gerakan kemanusiaan yang harus menjadi budaya. Selama masih ada saudara-saudara kita yang membutuhkan darah, selama itu pula semangat donor darah harus terus hidup," katanya.

Pemilihan Gedung DPRD Kabupaten Garut sebagai lokasi kegiatan juga memiliki makna tersendiri. Yudha menilai gedung parlemen sebagai rumah rakyat harus terbuka untuk berbagai kegiatan sosial yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia mengaku bersyukur mendapat dukungan dari pimpinan DPRD dan Sekretariat DPRD sehingga kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari Ketua DPRD Kabupaten Garut, Aris Munandar. Menurutnya, aksi donor darah dan pemeriksaan kesehatan gratis merupakan contoh konkret bagaimana nilai-nilai kebangsaan dan kemanusiaan dapat diterjemahkan dalam tindakan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Semangat Bung Karno adalah semangat pengabdian kepada rakyat. Karena itu saya sangat mengapresiasi kegiatan donor darah dan pelayanan kesehatan gratis ini. Selain membantu masyarakat yang membutuhkan, kegiatan ini juga memperkuat budaya gotong royong dan kepedulian sosial yang menjadi karakter bangsa Indonesia," ujar Aris.
Aris menilai DPRD tidak hanya memiliki fungsi legislasi, penganggaran dan pengawasan, tetapi juga harus menjadi ruang yang dekat dengan masyarakat. Karena itu, ia menyambut baik pemanfaatan Gedung DPRD untuk kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan.
"Kami ingin DPRD hadir bukan hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui aktivitas yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Kegiatan seperti ini patut diapresiasi dan terus didorong," katanya.

Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Garut, Helmi Budiman, menyampaikan apresiasi atas inisiatif yang dilakukan Yudha Puja Turnawan. Menurutnya, keterlibatan berbagai elemen masyarakat sangat penting dalam menjaga ketersediaan stok darah di Kabupaten Garut.
"Kebutuhan darah tidak mengenal hari libur dan berlangsung setiap hari. Karena itu PMI sangat mengapresiasi berbagai pihak yang menginisiasi kegiatan donor darah. Semakin banyak kegiatan seperti ini, semakin besar peluang kita memenuhi kebutuhan darah bagi pasien yang membutuhkan," ujar Helmi.
Ia menjelaskan bahwa setiap kantong darah yang didonorkan memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi karena dapat membantu menyelamatkan nyawa seseorang. Bahkan setelah diproses menjadi komponen darah, satu kantong darah dapat memberikan manfaat kepada lebih dari satu pasien.
Helmi juga mengajak masyarakat untuk menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup dan kepedulian sosial.
"Donor darah bukan hanya membantu orang lain, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan bagi pendonornya. Yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran bahwa kita semua bisa menjadi bagian dari penyelamat kehidupan orang lain," katanya.

Dalam kegiatan tersebut, panitia juga menyediakan berbagai doorprize menarik sebagai bentuk apresiasi kepada para pendonor. Hadiah yang disiapkan antara lain mesin cuci, kompor gas, rice cooker, dispenser dan berbagai perlengkapan rumah tangga lainnya.
Namun bagi Yudha, keberhasilan kegiatan ini bukan diukur dari jumlah hadiah yang dibagikan ataupun banyaknya kantong darah yang terkumpul semata. Yang lebih penting adalah tumbuhnya kesadaran kolektif masyarakat untuk saling membantu dan memperkuat solidaritas sosial.
Ia berharap peringatan Hari Lahir Bung Karno dapat menjadi momentum untuk membumikan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui aksi nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
"Persoalan yang dihadapi sesama anak bangsa tidak boleh dibiarkan menjadi beban individu. Kita harus hadir dan bergotong royong mencari solusi bersama. Donor darah adalah salah satu cara sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi kemanusiaan. Setetes darah kita bisa menjadi nyawa bagi sesama," pungkas Yudha.

Mengusung semangat "Donor Darah, Berbagi Kehidupan", kegiatan tersebut menjadi cerminan bahwa warisan pemikiran Bung Karno tetap relevan hingga hari ini. Tidak hanya dikenang dalam pidato dan buku sejarah, tetapi dihidupkan melalui tindakan nyata yang menghadirkan harapan, kesehatan, dan kemanusiaan bagi masyarakat. (*)