Mediamassa.id — Rapat Kerja Kabupaten (Rakerkab) Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kabupaten Garut untuk periode 2025–2030 menegaskan satu benang merah penting: organisasi harus dibangun di atas kejelasan tugas, struktur yang rapi, dan program kerja yang realistis sesuai kondisi objektif daerah.

Rakerkab yang digelar sebagai forum konsolidasi awal kepengurusan ini tidak hanya membahas daftar program, tetapi juga menguji kesiapan setiap bidang dalam memahami tupoksi (tugas pokok dan fungsi) masing-masing.
Dari pembahasan yang berkembang, terlihat bahwa tantangan utama PBVSI Garut ke depan bukan semata pada ambisi prestasi, melainkan pada ketertiban organisasi sebagai fondasi kerja jangka panjang.
Ketua PBVSI Garut, Dr. Ir. H. Abdusy Syakur Amin, M.Eng., IPO, menegaskan bahwa Rakerkab harus menjadi titik awal pembenahan menyeluruh, bukan sekadar formalitas tahunan.
“Organisasi yang sehat itu dimulai dari struktur yang jelas, pembagian tugas yang tegas, dan program yang bisa dijalankan, bukan hanya bagus di atas kertas,” ujarnya.
Syakur Amin menekankan bahwa program kerja PBVSI Garut periode 2025–2030 harus disusun berdasarkan kapasitas riil organisasi, sumber daya yang tersedia, serta kondisi klub dan pembinaan di lapangan.
Menurutnya, keberanian menyusun program yang terukur justru lebih penting dibanding membuat target besar yang sulit dieksekusi.
Hal senada disampaikan Nahdi Nahdiyanto, Ketua Pelaksana Harian PBVSI Garut. Ia menilai Rakerkab kali ini membuka ruang evaluasi yang jujur antarbidang, terutama terkait tumpang tindih kewenangan dan belum meratanya pemahaman terhadap jobdesk.

“Forum ini bukan untuk saling mengklaim program, tapi untuk memastikan setiap bidang bekerja di relnya masing-masing. Kalau jobdesk tidak jelas, organisasi akan jalan tapi tidak sinkron,” kata Nahdi.
Ia menambahkan bahwa ke depan PBVSI Garut akan memprioritaskan penyelarasan struktur organisasi dengan regulasi PBVSI di tingkat provinsi dan nasional, agar tidak terjadi kebingungan dalam pelaksanaan kegiatan, termasuk dalam hal pertandingan, administrasi, dan koordinasi lintas bidang.
Sementara itu, Uus Susansyah, selaku Ketua II yang membidangi pembinaan prestasi, menyoroti pentingnya kesinambungan antara perencanaan dan kesiapan organisasi pendukung.

“Prestasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia butuh dukungan organisasi yang rapi, keuangan yang jelas, kehumasan yang berjalan, serta kompetisi yang terjadwal dengan baik,” ujarnya.
Menurut Uus, salah satu hasil penting Rakerkab adalah kesadaran bersama bahwa kalender kegiatan tahunan, skala prioritas, dan tahapan kerja harus menjadi acuan utama setiap bidang, agar program tidak berhenti pada tataran wacana.

Selain itu, Rakerkab juga menyoroti beberapa hal strategis lain yang dinilai krusial untuk periode lima tahun ke depan, di antaranya:
- Perlunya konsolidasi internal pada fase awal kepengurusan
- Penataan ulang administrasi dan database klub
- Pemisahan kewenangan antarbidang agar tidak saling tumpang tindih
- Penguatan koordinasi sebelum masuk ke agenda kompetisi dan event besar.

Rakerkab PBVSI Garut 2025–2030 pada akhirnya tidak hanya menghasilkan catatan program, tetapi juga cermin kondisi organisasi saat ini.
Sebuah pengingat bahwa prestasi olahraga daerah tidak lahir secara instan, melainkan melalui kerja organisasi yang disiplin, realistis, dan konsisten.

Dengan komitmen untuk terus membenahi diri, PBVSI Garut menatap periode 2025–2030 sebagai fase penataan dan penguatan fondasi, agar langkah-langkah ke depan dapat berjalan lebih terarah dan berkelanjutan. (*)