• 16 Feb, 2026

Pasar Tradisional di Era Checkout Otomatis

Pasar Tradisional di Era Checkout Otomatis

Mediamassa.id - Di tengah gegap gempita notifikasi diskon 12.12, 2.2, 3.3, sampai 13.13 (yang entah diskonnya beneran atau cuma angka doang), kita hidup dalam peradaban baru: peradaban checkout now.

1001023653.jpg

Dunia seolah direduksi menjadi keranjang belanja virtual dan tombol “bayar sekarang”. Semua serba cepat, serba instan, serba digital.

Lalu diam-diam, kita rindu.

Rindu pada sesuatu yang tak bisa di-add to cart. Rindu pada pasar tradisional.

Di pasar tradisional, transaksi bukan cuma soal harga. Ia soal tatap muka. Soal suara ibu-ibu yang menawar cabai sambil mengeluh harga naik, lalu pedagang menjawab dengan setengah bercanda, “Naik, Bu, bukan cuma cabai. Cinta juga mahal sekarang.” Lalu dua-duanya tertawa, dan cabai tetap dibeli.

Coba bandingkan dengan pasar digital. Kita tak pernah tahu wajah penjualnya. Yang kita tahu cuma username, rating bintang lima, dan foto produk yang kadang lebih cantik dari aslinya. 

Di pasar digital, yang menatap kita bukan manusia, tapi algoritma. Ia tahu kita suka sepatu hitam, maka ia sodorkan sepatu hitam. Ia tahu kita pernah cari blender, maka seumur hidup kita akan dihantui iklan blender.

Di pasar tradisional, yang menghantui kita bukan iklan. Tapi teriakan:
“Tomat segar! Bayam baru petik!”
Itu pun teriakan yang manusiawi. Tidak muncul tiba-tiba di sela video kucing.

Pasar tradisional itu teater kehidupan. Ada drama kecil setiap hari. Ada pedagang yang sudah puluhan tahun di lapak yang sama, hafal wajah pelanggan, bahkan hafal utang-utang kecilnya.

Ada pembeli yang datang bukan hanya untuk belanja, tapi untuk bercerita: tentang anaknya yang lulus, tentang suaminya yang pensiun, tentang harga minyak goreng yang tak kunjung bersahabat.

Pasar digital menawarkan efisiensi. Pasar tradisional menawarkan relasi.

Dan kita, generasi yang katanya paling terkoneksi sepanjang sejarah, justru sering merasa paling kesepian. Kita bisa belanja dari kasur, bayar dari dompet digital, kiriman datang tanpa perlu keluar rumah. Praktis. Tapi kadang, yang hilang adalah alasan untuk keluar rumah itu sendiri.

Di pasar tradisional, kita belajar tawar-menawar. Bukan cuma soal harga, tapi soal kompromi hidup. Kita belajar bahwa nilai tak selalu sama dengan angka. Kadang pedagang menurunkan harga karena pembelinya sudah langganan lama. Kadang pembeli tak jadi menawar karena tahu pedagangnya juga harus makan.

Di e-commerce, harga sudah final. Kalau tak cocok, ya cari toko lain. Di pasar tradisional, hubungan lebih penting daripada sekadar selisih dua ribu rupiah.

Tentu saja, ini bukan ajakan anti-digital. Kita bukan mau kembali ke zaman barter ayam dengan singkong. Digitalisasi membawa banyak kemudahan, memperluas akses, bahkan menyelamatkan banyak UMKM. 

Tapi di tengah semua itu, ada yang tak bisa didigitalkan: hangatnya sapa, canda receh di sela transaksi, dan kepercayaan yang tumbuh dari pertemuan berulang.

Pasar tradisional mungkin becek. Kadang sempit. Kadang bau ikan yang terlalu jujur. Tapi di sanalah kita benar-benar berpapasan dengan manusia lain—dengan segala ekspresi, emosi, dan ceritanya.

Mungkin yang kita rindukan bukan sekadar pasar. Tapi rasa menjadi bagian dari komunitas. Rasa bahwa kita dikenal, bukan hanya sebagai “user”, tapi sebagai orang.

Di tengah dunia yang makin otomatis, mungkin sesekali kita perlu tersesat di lorong pasar. Mendengar suara tawar-menawar. Menggenggam uang kertas yang sedikit lecek. Menatap mata penjual yang tersenyum lelah tapi tulus.

Karena bisa jadi, di sana kita menemukan sesuatu yang tak pernah muncul di flash sale:
rasa. (*)

Gea Ilmi Girindra Ramdhani

Gea Ilmi Girindra Ramdhani adalah seorang penulis yang tidak sekadar merangkai kata, tetapi juga meramu satire dengan presisi seorang ahli racik kopi: pahit, tajam, dan bikin ketagihan. Dengan gaya menulis yang menggelitik, ia mampu menguliti absurditas sosial, membongkar hipokrisi pejabat, dan menyoroti realitas dengan cara yang membuat pembaca tertawa getir—antara ingin marah atau bertepuk tangan. Di tangannya, setiap kata adalah peluru, setiap paragraf adalah tamparan halus bagi siapa saja yang masih percaya dunia ini adil.