• 07 Feb, 2026

Jangan Nulis. Itu Berat. Biar Robot Saja!

Jangan Nulis. Itu Berat. Biar Robot Saja!

Mediamassa.id - Menulis itu tidak gampang.
Kalau terasa gampang, biasanya karena belum benar-benar masuk ke dalamnya.

Menulis butuh kapasitas. Bukan cuma bisa merangkai kata, tapi juga memahami konteks, membaca situasi, menahan diri, dan tahu kapan harus diam. Kadang harus belajar lama hanya untuk tahu satu hal sederhana: tidak semua pendapat perlu ditulis.

Itu yang berat.

Maka kehadiran AI terasa seperti berkah. Tiba-tiba semua orang bisa menulis. Tinggal ketik sedikit perintah, keluarlah paragraf-paragraf yang rapi, percaya diri, dan terdengar “paham”. Lengkap dengan istilah, struktur, dan nada yang meyakinkan.

Seolah-olah.

Tulisan-tulisan seperti ini biasanya langsung bisa dikenali. Bahasanya terlalu mulus. Nadanya terlalu netral. Isinya terlalu umum. Seperti orang yang banyak bicara tapi tidak pernah menyentuh inti. Tidak salah, tapi juga tidak hidup. Dan anehnya, ada yang percaya itu sudah cukup.

Padahal kelihatan, kok.
Tulisan AI itu ada baunya.

Seragam. Aman. Tidak pernah benar-benar mengambil risiko. Tidak pernah terdengar kikuk, tidak pernah salah arah, dan justru karena itu terasa tidak manusiawi.

Menulis dengan pengalaman biasanya berantakan sedikit. Ada emosi yang bocor. Ada sudut pandang yang jelas. Ada kalimat yang terasa “ini orangnya hadir”. Tulisan AI jarang begitu. Ia pintar, tapi tidak punya posisi. Ia fasih, tapi tidak punya beban.

Masalahnya bukan pada AI-nya. AI memang dibuat untuk membantu. Masalahnya muncul ketika alat dipakai untuk menutupi kekosongan kapasitas. Ketika orang yang belum pernah belajar, belum pernah mengalami, belum pernah ditempa, tiba-tiba tampil seolah sudah pantas bicara di ruang publik.

Bisa, sih.
Tapi kelihatan.

Menulis—apalagi di ruang yang dibaca orang banyak—bukan cuma soal hasil. Ada proses yang biasanya membentuk kepekaan. Ada pengalaman yang membuat seseorang tahu batas. Tanpa itu, tulisan mudah jatuh jadi sekadar bunyi: panjang, rapi, tapi kosong.

AI membuat semuanya terlihat mudah. Dan kemudahan itu sering disalahartikan sebagai kemampuan.

Padahal beda.

Kemampuan itu lahir dari proses. Dari salah. Dari ditegur. Dari belajar memahami sebelum berani menyimpulkan. AI tidak punya semua itu. Ia hanya menyusun ulang apa yang sudah ada, tanpa pernah benar-benar tahu apa artinya.

Jadi kalau hari ini banyak tulisan terasa “pintar tapi hambar”, “panjang tapi tidak ke mana-mana”, jangan heran. Bisa jadi itu bukan karena penulisnya malas, tapi karena memang tidak pernah dibentuk untuk menulis.

AI hanya memperjelasnya.

Menulis memang berat.
Butuh kapasitas. Butuh pengalaman. Butuh tanggung jawab.
Kalau semua itu tidak ada, ya wajar kalau akhirnya memilih jalan ringan.

Jangan nulis. Itu berat.
Biar AI saja.
Tapi jangan kaget kalau pembaca bisa membedakannya.

Karena tulisan boleh dibantu mesin,
tapi kapasitas tidak bisa dipinjam. (*)

Gea Ilmi Girindra Ramdhani

Gea Ilmi Girindra Ramdhani adalah seorang penulis yang tidak sekadar merangkai kata, tetapi juga meramu satire dengan presisi seorang ahli racik kopi: pahit, tajam, dan bikin ketagihan. Dengan gaya menulis yang menggelitik, ia mampu menguliti absurditas sosial, membongkar hipokrisi pejabat, dan menyoroti realitas dengan cara yang membuat pembaca tertawa getir—antara ingin marah atau bertepuk tangan. Di tangannya, setiap kata adalah peluru, setiap paragraf adalah tamparan halus bagi siapa saja yang masih percaya dunia ini adil.