• 28 May, 2026

T.U.T.A.B Guncang Magnumotion 2026

T.U.T.A.B Guncang Magnumotion 2026

Mediamassa.id — Sabtu malam, 24 Mei 2026, kawasan Ahmad Yani Garut berubah jadi lautan manusia berbaju gelap yang bergerak ke satu titik: Reverdose. Magnumotion 2026 malam itu sudah terasa padat bahkan sebelum pintu venue benar-benar penuh. Dari luar, suara soundcheck yang bocor, tawa kru, dan teriakan penonton yang antre sudah jadi tanda bahwa malam ini bukan sekadar gigs biasa.

Di antara deretan penampil, T.U.T.A.B jadi salah satu nama yang paling ditunggu. Band punk ini datang tanpa banyak atribut panggung yang rumit, tanpa konsep yang berlebihan. Mereka datang dengan satu hal yang sejak awal sudah terasa: energi mentah yang tidak ditahan.

100946.jpg

Begitu naik panggung, mereka langsung membuka dengan “Intro”. Tidak ada dramatisasi panjang, tidak ada pembicaraan yang bertele-tele. Hanya jeda singkat seperti menarik napas sebelum lari tanpa rem. Dari situ, semuanya langsung pecah.

“Penjara” jadi pukulan pertama yang benar-benar membuka malam. Tempo cepat, gitar kasar, dan vokal yang terdengar seperti teriakan yang dipaksa keluar dari ruang sempit langsung membuat crowd bergerak. Moshpit terbentuk tanpa instruksi, tanpa aba-aba—hanya reaksi spontan terhadap suara yang menghantam.

99656.jpg

Di tengah dorongan itu, Bono dan Joy di vokal terlihat tidak mencoba “mengatur” penonton. Mereka justru seperti ikut terseret dalam energi yang sama. Sesekali hanya teriakan pendek, selebihnya membiarkan crowd yang menyelesaikan bagian mereka sendiri. Tidak ada jarak, tidak ada panggung yang terasa tinggi—yang ada hanya satu ruang yang penuh kebisingan.

100948.jpg

Masuk ke “Polishit”, suasana makin sinis dan tajam. Lagu ini seperti komentar keras yang dilontarkan tanpa filter. Emoh di gitar memainkan riff yang terasa kotor dan patah-patah, tapi justru di situ letak karakternya. Tidak rapi, tapi hidup. Di belakangnya, Eza di bass menjaga ritme tetap mendorong ke depan, seperti memaksa semua orang tetap bergerak meski napas sudah mulai pendek.

Crowd merespons dengan cara yang khas: bukan hanya lompat dan dorong, tapi juga teriakan balik yang saling bersahutan dengan panggung. Di titik ini, Reverdose bukan lagi venue—tapi jadi satu ruang besar yang isinya hanya suara, keringat, dan benturan.

Lalu “Teman Tapi Lawan” menjadi momen paling “nyantol” malam itu. Di tengah kekacauan, lagu ini justru jadi titik sing-along. Banyak yang tiba-tiba ikut menyuarakan reff, bahkan mereka yang sebelumnya hanya mosh di depan. Joy beberapa kali terlihat tersenyum di sela vokal, seolah memang itulah yang dicari dari lagu ini—bukan sekadar keras, tapi juga dekat dengan realitas sehari-hari.

101026.jpg

Setelah itu, “Basir” membawa suasana sedikit lebih berat. Tidak menurunkan energi, tapi mengubah bentuknya. Roy di drum memainkan pola yang tetap cepat, tapi lebih padat dan menghantam, seperti menahan tekanan yang tidak diberi ruang keluar. Crowd tetap bergerak, tapi lebih rapat, lebih dalam, seperti semua orang sedang menumpuk energi yang sama di satu titik.

Di tengah set yang semakin panas, “Lelah” jadi momen yang terasa paling manusiawi. Lagu ini seperti jeda pendek di tengah deru cepat punk malam itu. Banyak penonton mulai terlihat mengatur napas, beberapa hanya berdiri sambil mengangguk pelan, tapi tanpa benar-benar keluar dari suasana. Bono sempat melontarkan satu kalimat pendek ke mic di sela lagu, bukan sebagai pidato, tapi lebih seperti pengakuan singkat: malam ini semua orang memang sedang berada di titik yang sama—capek, tapi tetap jalan.

Namun tidak ada jeda yang benar-benar aman di set T.U.T.A.B.

89259.jpg

Begitu “ACAB” dimulai, semua energi yang sempat mengendap langsung dilepaskan lagi. Ini bukan sekadar penutup, tapi ledakan terakhir yang sengaja tidak ditahan. Moshpit kembali terbuka lebih liar, dorong-dorongan makin padat, dan teriakan crowd bercampur dengan vokal hingga sulit dibedakan mana panggung dan mana penonton.

Di tengah chaos itu, Emoh tetap dengan riff cepat dan kasar, Eza mendorong low-end yang konstan, Roy menghantam drum tanpa kompromi, sementara Bono dan Joy seperti hanya menjadi pemicu tambahan dari apa yang sudah terjadi di bawah.

Setelah lagu terakhir berhenti, tidak ada momen hening yang dramatis. Yang ada hanya napas yang tersisa, tubuh yang saling bertabrakan pelan, dan suara dengung yang masih tertinggal di kepala semua orang di ruangan itu.

Magnumotion 2026 malam itu di Reverdose Garut bukan sekadar pertunjukan musik. Dan T.U.T.A.B tidak mencoba jadi “band yang rapi di atas panggung”. Mereka hanya menjadi apa yang punk selalu klaim sejak awal: jujur, berisik, dan tidak berusaha disukai semua orang—dan justru karena itu, mereka meninggalkan jejak paling keras di malam itu. (*)