• 03 Aug, 2026

T.U.T.A.B dan The Greatest Shit: Ketika Kebisingan Menjadi Arsip Perlawanan

T.U.T.A.B dan The Greatest Shit: Ketika Kebisingan Menjadi Arsip Perlawanan

Mediamassa.id - Ada band yang menulis lagu untuk mengejar radio. Ada pula yang menulis lagu karena tidak menemukan ruang lain untuk berteriak. T.U.T.A.B jelas berada di kelompok kedua.

Selama hampir tiga dekade, unit punk asal Garut ini tidak pernah benar-benar mengejar popularitas. Mereka tumbuh dari ruang-ruang sempit, gigs mandiri, gedung olahraga, lapangan desa, hingga panggung-panggung kecil yang dibangun secara gotong royong oleh komunitas. Musik mereka tidak lahir dari rapat pemasaran, melainkan dari keresahan yang dikonversi menjadi distorsi.

Kini, sebagian dari perjalanan itu dikumpulkan dalam sebuah kompilasi berjudul The Greatest Shit yang telah tersedia di Spotify. Sebuah judul yang sejak awal sudah menjadi kritik. Jika industri musik mengenal istilah Greatest Hits sebagai kumpulan lagu terbaik berdasarkan penjualan atau popularitas, T.U.T.A.B justru memilih kata Shit. Sebuah bentuk olok-olok terhadap standar keberhasilan industri musik sekaligus sindiran terhadap dunia yang sering kali lebih menghargai kemasan dibanding isi.

Ironisnya, justru "shit" inilah yang menjadi warisan paling jujur dari perjalanan T.U.T.A.B.

Daftar lagu di dalamnya bukan sekadar kumpulan materi lama. Ia adalah catatan perjalanan tentang bagaimana sebuah band memandang perang, kekuasaan, alam, tubuh, identitas, kelelahan, hingga sisi paling gelap manusia.

371808-1.jpg

Fuck The War mungkin menjadi salah satu manifesto paling jelas dari T.U.T.A.B. Judulnya tidak menyisakan ruang untuk tafsir yang berbelit. Perang tidak pernah dipandang sebagai panggung kepahlawanan, tetapi sebagai mesin yang menguntungkan segelintir elite sambil mengorbankan rakyat biasa. Lagu ini terasa relevan di zaman apa pun karena perang selalu lahir dari ambisi politik, nasionalisme yang dibutakan, atau kepentingan ekonomi, sementara mereka yang mati hampir selalu bukan para pengambil keputusan.

Jika Fuck The War berbicara tentang kekerasan dalam skala global, Explode Of Disorder justru mengajak masuk ke dalam kekacauan yang lebih dekat. Judulnya menggambarkan ledakan ketidakteraturan, baik di tingkat sosial maupun batin manusia. Di dunia punk, disorder bukan sekadar kerusuhan jalanan, tetapi juga simbol runtuhnya sistem yang dianggap gagal menghadirkan keadilan. Lagu ini seolah menjadi soundtrack bagi dunia yang kehilangan keseimbangan.

Berbeda lagi dengan Lukai Jiwa. Di antara dominasi tema-tema sosial, lagu ini menghadirkan ruang yang lebih personal. Luka yang dimaksud bukan luka fisik, melainkan trauma, pengkhianatan, kehilangan, atau beban hidup yang tidak terlihat. Di balik agresivitas musiknya, terdapat pengakuan bahwa manusia paling keras sekalipun tetap memiliki sisi rapuh.

Nama Anarchy The Destroyer sering disalahpahami sebagai ajakan menghancurkan apa pun. Padahal, dalam tradisi pemikiran anarkisme, penghancuran bukanlah tujuan akhir. Yang dihancurkan adalah struktur yang menindas, relasi kuasa yang tidak adil, dan sistem yang membatasi kebebasan manusia. Kata destroyer dalam lagu ini dapat dibaca sebagai metafora tentang keberanian meruntuhkan sesuatu yang sudah usang agar ruang baru dapat tercipta. Versi remastered dalam kompilasi ini seperti mempertegas bahwa gagasan tersebut tetap relevan, meski waktu terus bergerak.

Di tengah dominasi tema politik, hadir Hutan, salah satu lagu yang menarik karena membawa isu ekologis. Hutan bukan hanya lanskap alam, melainkan simbol kehidupan yang terus-menerus dieksploitasi atas nama pembangunan. Dalam konteks Indonesia, lagu ini terasa sangat dekat dengan kenyataan: deforestasi, pertambangan, perkebunan skala besar, dan berbagai bentuk eksploitasi yang menjadikan alam sekadar komoditas. T.U.T.A.B mengingatkan bahwa ketika hutan hilang, yang lenyap bukan hanya pepohonan, tetapi juga ruang hidup manusia dan makhluk lainnya.

Lelah mungkin menjadi lagu yang paling manusiawi di antara semuanya. Lelah di sini bukan ajakan menyerah, melainkan pengakuan bahwa setiap orang memiliki batas. Aktivis, pekerja, musisi, bahkan mereka yang terus melawan, tetap bisa kehabisan tenaga. Mengakui kelelahan justru menjadi bentuk kejujuran yang jarang ditemukan dalam budaya yang selalu menuntut manusia untuk tampak kuat.

Judul Tersiksa memperlihatkan sisi lain dari pengalaman hidup. Siksaan tidak selalu berasal dari kekuasaan atau penjara. Ia bisa lahir dari kemiskinan, tekanan sosial, diskriminasi, bahkan konflik batin yang terus dipendam. Lagu ini menggambarkan penderitaan sebagai pengalaman kolektif, bukan sekadar persoalan individu.

Di antara seluruh daftar lagu, Panseksualities mungkin menjadi yang paling provokatif. Judulnya membuka ruang diskusi tentang seksualitas, identitas, dan kebebasan manusia menentukan dirinya sendiri. Dalam kultur punk, tema seperti ini sering digunakan untuk mempertanyakan norma sosial yang dianggap terlalu sempit dalam mendefinisikan manusia.

Terlepas dari bagaimana isi liriknya dipahami, keberanian mengangkat isu tersebut menunjukkan bahwa T.U.T.A.B tidak pernah takut memasuki wilayah yang dianggap tabu.

Sementara itu, Otak Hewan menjadi kritik paling telanjang terhadap perilaku manusia. Judulnya menyindir kecenderungan manusia yang kehilangan nalar, empati, dan kemampuan berpikir kritis. Ironinya, justru manusia yang mengaku paling beradab sering bertindak lebih brutal daripada binatang. Lagu ini seperti cermin yang dipaksa berdiri di depan wajah pendengarnya.

Mendengarkan The Greatest Shit hari ini berarti mendengarkan arsip dari sebuah masa ketika musik independen hidup melalui fotokopian zine, kaset yang digandakan sendiri, poster hitam-putih, dan gigs yang dibangun tanpa sponsor besar.

Namun, menariknya, seluruh pesan itu tetap terasa relevan. Ketidakadilan masih ada. Perang belum berhenti. Alam terus dirusak. Kekuasaan tetap bekerja dengan wajah yang berganti-ganti.

Karena itulah kompilasi ini tidak terasa sebagai album nostalgia. Ia justru terdengar seperti komentar terhadap keadaan hari ini.

371805.jpg

T.U.T.A.B mungkin tidak pernah menjadi band yang mengejar tangga lagu atau penghargaan industri. Namun, mereka berhasil melakukan sesuatu yang lebih penting: menjaga agar semangat punk tetap hidup sebagai cara berpikir. Bahwa punk bukan sekadar musik cepat, jaket penuh emblem, atau rambut mohawk. Punk adalah keberanian mempertanyakan dunia ketika semua orang diminta diam.

Dan selama masih ada orang yang memutar The Greatest Shit, kebisingan itu akan terus menemukan telinga baru, membawa pertanyaan-pertanyaan lama yang sampai hari ini belum pernah benar-benar dijawab. (*)

Catatan Redaksi: Tulisan ini disusun berdasarkan rilisan kompilasi The Greatest Shit di Spotify, dokumentasi perjalanan T.U.T.A.B selama hampir tiga dekade, serta pembacaan redaksi terhadap tema-tema yang hadir dalam judul lagu dan karakter musikal band. Uraian mengenai makna dan filosofi setiap lagu merupakan interpretasi editorial Mediamassa.id, bukan penafsiran resmi dari T.U.T.A.B. Justru di situlah musik menemukan ruang hidupnya: setiap pendengar berhak membaca, merasakan, dan memaknai karya dengan caranya sendiri.