Mediamassa.id - Di ruang operasi, ruang bersalin, unit gawat darurat, hingga ruang perawatan thalasemia, ada satu kebutuhan yang tidak pernah bisa ditunda: darah.
“Ketika seorang ibu mengalami pendarahan saat melahirkan, ketika korban kecelakaan kehilangan banyak darah, ketika pasien kanker menjalani pengobatan, atau ketika penyintas thalasemia membutuhkan transfusi rutin, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan fungsi darah manusia. Hingga hari ini, darah tidak dapat diproduksi di pabrik, tidak dapat dibuat di laboratorium, dan tidak dapat disintesis oleh mesin,” demikian disampaikan dr. Iwan Irawan, Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Garut, Selasa (16/6/2026)

Karena itu, ia menyebut, donor darah menjadi salah satu tindakan kemanusiaan paling sederhana sekaligus paling penting yang dapat dilakukan manusia.
"Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut darah sebagai "hadiah kehidupan". Setiap kantong darah yang didonorkan berpotensi membantu hingga tiga orang pasien karena dapat dipisahkan menjadi sel darah merah, plasma, dan trombosit yang digunakan sesuai kebutuhan medis masing-masing pasien," katanya.
Di balik proses yang hanya memakan waktu beberapa menit, donor darah menyimpan manfaat yang jauh lebih besar daripada yang selama ini dibayangkan banyak orang.
Table of contents [Show]
Menyelamatkan Nyawa yang Tidak Pernah Kita Kenal
Manfaat paling nyata dari donor darah adalah menyelamatkan kehidupan.
“WHO menjelaskan bahwa transfusi darah dibutuhkan oleh pasien operasi, korban kecelakaan, penyintas kanker, anak-anak dengan anemia berat, ibu yang mengalami komplikasi persalinan, hingga pasien dengan penyakit darah kronis seperti thalasemia dan hemofilia,” lanjut Iwan.
Sering kali seorang pendonor tidak pernah mengetahui siapa penerima darahnya. Namun justru di situlah letak keistimewaannya.
"Seseorang dapat membantu mempertahankan kehidupan orang lain tanpa mengenal nama, agama, suku, pilihan politik, maupun status sosialnya. Darah menjadi bahasa universal kemanusiaan yang melampaui semua batas, ujarnya.
Menjaga Sistem Kesehatan Tetap Berjalan
Banyak orang menganggap donor darah hanya dibutuhkan ketika terjadi bencana besar. Padahal kebutuhan darah berlangsung setiap hari.
Rumah sakit memerlukan pasokan darah yang stabil untuk operasi, persalinan, pelayanan gawat darurat, terapi kanker, serta perawatan berbagai penyakit kronis. WHO menegaskan bahwa sistem kesehatan yang baik harus didukung oleh ketersediaan darah yang aman dan mencukupi sepanjang waktu.
“Masalahnya, darah memiliki masa simpan terbatas. Artinya, stok darah harus terus diperbarui melalui donor sukarela yang dilakukan secara rutin. Karena itulah pendonor reguler menjadi tulang punggung pelayanan kesehatan modern,” jelas Iwan.
Manfaat bagi Pendonor
dr. Iwan Irawan menjelaskan, selama ini donor darah sering dipahami hanya sebagai bentuk pengorbanan. Padahal sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pendonor juga memperoleh manfaat kesehatan tertentu.
“Beberapa studi menunjukkan donor darah dapat membantu menjaga keseimbangan kadar zat besi dalam tubuh dan berpotensi mendukung kesehatan sistem peredaran darah. Selain itu, sebelum donor dilakukan pemeriksaan kesehatan dasar seperti tekanan darah, kadar hemoglobin, denyut nadi, dan kondisi umum tubuh sehingga pendonor mendapatkan pemantauan kesehatan secara berkala,” katanya.
Meski demikian, lanjut Iwan, para ahli menegaskan bahwa alasan utama donor darah tetaplah untuk membantu sesama, bukan semata-mata mengejar manfaat kesehatan pribadi.
Manfaat yang Tidak Terlihat: Kesehatan Mental dan Sosial
Iwan menyebut, ada manfaat lain yang jarang dibicarakan.
“Donor darah memperkuat rasa empati dan keterhubungan sosial. Banyak pendonor rutin mengaku merasakan kepuasan batin karena mengetahui bahwa darah yang mereka sumbangkan dapat membantu orang lain bertahan hidup. Beberapa bahkan menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup dan identitas kemanusiaan mereka,” katanya.
Di berbagai negara, gerakan donor darah juga terbukti mampu membangun solidaritas sosial. Komunitas pendonor menjadi jaringan kemanusiaan yang siap bergerak ketika terjadi krisis atau kekurangan stok darah.
Tantangan: Banyak yang Bisa, Sedikit yang Mau
Ironisnya, kebutuhan darah terus meningkat sementara jumlah pendonor aktif sering kali belum mencukupi.
“Di berbagai negara, termasuk Indonesia, tantangan terbesar bukanlah teknologi, melainkan partisipasi masyarakat. Banyak orang sebenarnya memenuhi syarat untuk donor darah, namun belum menjadikan donor darah sebagai kebiasaan rutin. Akibatnya, kekurangan stok darah masih sering terjadi terutama pada momen libur panjang, bencana, atau kondisi darurat tertentu,” ujar Iwan.
Padahal proses donor darah relatif aman. “Darah yang diambil hanya sekitar 450 mililiter atau kurang dari 10 persen total volume darah orang dewasa, dan cairan tubuh umumnya dapat tergantikan kembali dalam waktu singkat. Seluruh proses juga menggunakan peralatan steril sekali pakai,” jelasnya.
Dari Dunia ke Garut
Menurut dr. Helmi Budiman, Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Garut, semua manfaat itu pada akhirnya bermuara pada satu kenyataan sederhana: setiap daerah membutuhkan pendonor darah yang cukup.
“Di Kabupaten Garut, kebutuhan darah tidak hanya datang dari rumah sakit dan pasien gawat darurat, tetapi juga dari para penyintas thalasemia yang harus menjalani transfusi darah secara rutin sepanjang hidup mereka,” kata Helmi.

Helmi menyebut, bagi mereka, donor darah bukan sekadar kampanye tahunan atau kegiatan sosial sesaat. Donor darah adalah kesempatan untuk tetap hidup, bersekolah, bekerja, membangun keluarga, dan menjalani masa depan.
“Karena itu, ketika seseorang mendonorkan darahnya di Garut, sesungguhnya ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada yang terlihat. Ia mungkin sedang membantu seorang ibu melewati persalinan, menyelamatkan korban kecelakaan di ruang gawat darurat, atau memberi harapan baru bagi penyintas thalasemia yang menunggu transfusi berikutnya,” kata Helmi Budiman.
Di sinilah pesan yang terus digaungkan PMI Kabupaten Garut menjadi relevan: donor darah bukan sekadar kegiatan insidental, melainkan budaya kemanusiaan.
“Sebab di balik setiap kantong darah yang terkumpul, selalu ada kehidupan yang menunggu untuk diselamatkan,” pungkasnya. (*)