Mediamassa.id – Dalam perjalanan hampir tiga dekade T.U.T.A.B, setiap periode memiliki cerita dan tokohnya masing-masing. Ada yang menjadi saksi ketika band ini lahir, ada yang menjaga bara api tetap menyala saat masa-masa sulit, dan ada pula yang hadir pada fase kebangkitan. Salah satu nama yang tak bisa dilepaskan dari perjalanan itu adalah Angky, drummer T.U.T.A.B pada periode 2006 hingga 2015.
Ketika Angky bergabung, T.U.T.A.B sedang memasuki babak baru. Setelah melewati berbagai perubahan formasi di awal tahun 2000-an, band ini membutuhkan energi baru untuk kembali melangkah. Bersama Bono, Gobel, Emoh, Eza, dan Fahmi, Angky menjadi bagian dari formasi yang membawa T.U.T.A.B kembali produktif di ruang latihan maupun di atas panggung.

Di balik perangkat drum, Angky bukan tipe penabuh yang banyak mencari perhatian. Permainannya lebih mengutamakan ketepatan tempo, tenaga yang konsisten, dan kemampuan membaca dinamika lagu. Karakter itulah yang membuatnya mampu menyatu dengan musik T.U.T.A.B yang mengandalkan ritme cepat tanpa kehilangan kekompakan.
"Buat saya, drummer itu bukan yang paling menonjol. Tugasnya menjaga lagu tetap hidup dari awal sampai akhir. Kalau temponya kuat, semua personel bisa bermain dengan nyaman," ujarnya.
Pada periode inilah T.U.T.A.B kembali aktif menghasilkan karya. Bersama formasi tersebut lahir berbagai proses kreatif yang kemudian melahirkan album Sepuluh Tahun Kemudian (2006) dan berlanjut hingga We Still Stand Here (2015), dua rilisan yang menjadi penanda penting perjalanan band.
Bagi Angky, setiap proses latihan selalu menjadi ruang bertukar pikiran. Lagu-lagu T.U.T.A.B tidak pernah hanya dibangun dari satu orang. Ide berkembang dari obrolan, pengalaman hidup, hingga berbagai fenomena sosial yang kemudian diterjemahkan menjadi musik dan lirik.
"Yang saya suka dari T.U.T.A.B, semua orang punya ruang untuk menyampaikan pendapat. Jadi bukan cuma soal main musik, tapi kami juga banyak berdiskusi."
Selama hampir satu dekade bersama T.U.T.A.B, Angky ikut merasakan bagaimana band ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Mereka melewati masa ketika rilisan fisik masih menjadi kebanggaan, hingga memasuki era digital yang mengubah cara orang menikmati musik.
Namun satu hal yang menurutnya tidak pernah berubah adalah semangat persaudaraan.
"Kalau tidak ada rasa saling percaya, mungkin T.U.T.A.B tidak akan bertahan selama ini. Yang membuat band ini kuat bukan cuma lagu-lagunya, tapi orang-orang di dalamnya."
Setelah 2015, aktivitas Angky bersama T.U.T.A.B mulai berkurang. Kesibukan pekerjaan membuatnya harus membagi waktu dan akhirnya memilih hiatus dari aktivitas band. Keputusan itu bukan karena konflik ataupun perbedaan pandangan, melainkan konsekuensi dari tanggung jawab yang semakin besar di luar musik.
Meski tidak lagi aktif sebagai personel, hubungan Angky dengan T.U.T.A.B tetap terjalin baik. Ia masih mengikuti perkembangan band, menjaga komunikasi dengan para personel, dan sesekali hadir ketika ada kesempatan berkumpul.
"Saya memang sedang fokus bekerja. Tapi T.U.T.A.B tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Kalau ada waktu buat kumpul, ya kumpul. Persaudaraan itu tetap ada."
Kini posisi drum T.U.T.A.B diisi secara bergantian bersama Roy, Joy, dan sesekali melibatkan Angky ketika memungkinkan. Bagi T.U.T.A.B, pergantian peran bukanlah akhir dari sebuah kebersamaan, melainkan bagian dari perjalanan yang terus bergerak.
Kontribusi Angky mungkin tidak selalu terlihat di depan panggung. Namun hampir sepuluh tahun ia berada di balik drum menjadi bagian penting dari fase ketika T.U.T.A.B kembali menemukan ritmenya, memperkuat karya-karyanya, dan menegaskan bahwa mereka masih mampu berdiri di tengah perubahan zaman.
Perjalanannya membuktikan bahwa menjadi bagian dari sebuah band tidak selalu diukur dari siapa yang paling sering tampil. Ada kalanya, seseorang meninggalkan jejak melalui konsistensi, kerja sama, dan kesediaannya menjaga tempo agar perjalanan itu terus berlanjut.
Dan dalam sejarah T.U.T.A.B, Angky adalah salah satu penjaga tempo pada masa kebangkitan band ini. (*)
Sumber: Wawancara Mediamassa.id bersama personel T.U.T.A.B dan dokumentasi perjalanan band, 2026.