• 30 Jul, 2026

Anarcho Punk vs Street Punk: Akar Sama, Jalan Berbeda

Anarcho Punk vs Street Punk: Akar Sama, Jalan Berbeda

Dua anak dari reruntuhan yang sama: Anarcho Punk, Street Punk, dan pertarungan yang belum selesai. Foto: Crass di Digbeth Civic Hall, Birmingham, 1981. Kredit: "Graham Burnett / Wikimedia Commons" .

Mediamassa.id - Punk lahir sudah dalam bentuk komoditas. Sebelum sempat menjadi ancaman, ia telah menjadi barang dagangan. Malcolm McLaren menjual Sex Pistols dari balik toko busana di King's Road bahkan sebelum lagu pertama mereka direkam. Situasionisme yang katanya menjiwai proyek itu, pada akhirnya, hanya berfungsi sebagai kemasan bagi sesuatu yang tetap sebuah transaksi.

Dick Hebdige pernah menunjukkan bahwa gerak subkultur menuju gaya yang stabil selalu disertai gerak baliknya: penggabungan ke dalam bentuk komoditas dan bentuk ideologis sekaligus, hampir dalam napas yang sama. Ini bukan catatan kaki sejarah punk. Ini kontradiksi dasarnya. Dari situ, semua percabangan berikutnya—termasuk anarcho-punk dan street punk—mewarisi bentuk.

Krisis yang Mendahului Thatcher

Situasi material yang melahirkan punk memang sudah cukup dikenal. Tapi urutannya sering dibalik.

Konsensus pascaperang Inggris runtuh sejak krisis minyak 1973. Stagflasi dan deindustrialisasi mengosongkan kota-kota Midlands dan utara. Pengangguran muda menembus lebih dari satu juta orang di bawah usia 25 tahun pada awal dekade berikutnya. Semua ini terjadi sebelum Margaret Thatcher naik ke tampuk kekuasaan pada 1979.

Thatcherisme bukan penyebab krisis itu. Ia adalah jawaban politik atasnya. Getaran krisis justru sudah lebih dulu dirasakan punk: dalam kebingungan dan kemarahan yang belum tahu hendak diarahkan ke mana.

Tapi krisis material yang sama tidak melahirkan satu jawaban budaya. Ia retak menjadi dua arus yang saling menyangkal legitimasi satu sama lain sejak mula.

Dua Anak dari Reruntuhan yang Sama

Pada 1977, di Dial House—komune di Epping, Essex, yang berdiri sejak 1967—Penny Rimbaud dan Steve Ignorant membentuk Crass. Kelak, band ini menjadi peletak dasar anarcho-punk.

Dua tahun kemudian, kolumnis Sounds bernama Garry Bushell menamai gejala berbeda yang tumbuh di pub dan tribun sepak bola London Timur: Oi!. Gerakan ini dihimpun dari band-band seperti Cockney Rejects dan Angelic Upstarts, lalu dikristalkan lewat kompilasi Oi! The Album pada akhir 1980.

Kedua arus ini mengklaim otentisitas kelas pekerja yang sama, dari krisis material yang sama. Tapi masing-masing menempati posisi berbeda di dalam apa yang oleh Gramsci disebut senso comune—akal sehat. Bagi Gramsci, akal sehat adalah endapan pengalaman kelas yang pada dasarnya terfragmentasi, kontradiktif, dan tidak pernah koheren dengan sendirinya. Ia bukan kesadaran kelas murni yang menunggu dibangkitkan. Ia medan perebutan. Arahnya ditentukan oleh siapa yang lebih dulu berhasil mengartikulasikannya.

Street Punk: Akal Sehat Tanpa Mediasi

Street punk memilih membiarkan akal sehat itu bicara tanpa mediasi teori apa pun. Steve Kent, gitaris The Business, merumuskan permusuhan itu dengan gamblang. Punk generasi pertama, katanya, sudah direbut kembali oleh anak-anak universitas yang gemar berkata rumit dan berpura-pura artistik. Tuduhan itu sederhana: kelas menengah terdidik telah menyusup ke dalam gerakan yang katanya milik kelas pekerja.

Lagu-lagu Oi! bicara soal pengangguran, razia polisi, dan kebosanan tanpa masa depan. Gaya vokalnya mengadaptasi terrace chant—nyanyian tribun sepak bola yang diubah menjadi paduan suara pemberontakan.

Tapi realisme seperti itu, justru karena menolak kerangka penjelas apa pun di luar pengalaman langsungnya, membiarkan dirinya terbuka bagi siapa saja yang datang membawa penjelasan. Ini bukan cacat personal para musisinya. Ini properti struktural dari otentisitas yang tak di mediasi.

Kekosongan yang Diperebutkan

Front Nasional dan British Movement memahami kekosongan itu lebih cepat ketimbang kiri terorganisir.

Awal Juli 1981, sebuah gig Oi! di Hambrough Tavern, Southall—kawasan dengan populasi Asia Selatan yang besar—didatangi sekitar 300 simpatisan sayap kanan. Mereka menyebar selebaran "white nationalist crusade" dan memecahkan kaca toko-toko milik warga Asia sebelum pertunjukan dimulai. Warga Southall membalas dengan membakar pub itu sampai rata.

Beberapa bulan sebelumnya, kompilasi Strength Thru Oi!—judulnya sendiri gaung dari slogan Nazi "Strength Through Joy"—menampilkan di sampulnya wajah Nicky Crane, aktivis British Movement yang tengah menjalani hukuman penjara karena kekerasan rasial. Garry Bushell, penyusun kompilasi itu, bersikeras tak tahu identitas maupun konotasi di baliknya sampai terungkap dua bulan kemudian.

Enam tahun berselang, Crane yang sama ikut mendirikan Blood & Honour bersama Ian Stuart Donaldson, vokalis Skrewdriver. Band ini awalnya adalah street punk biasa yang dibentuk pertengahan 1970-an, bubar 1979, lalu dibentuk ulang secara eksplisit sebagai band Rock Against Communism pada awal 1980-an. Blood & Honour kemudian menyebar ke puluhan negara, sebelum akhirnya dikenai sanksi kontraterorisme oleh pemerintah Inggris sendiri pada Januari 2025.

Tidak semua band Oi! rasis. Angelic Upstarts secara terbuka sosialis dan tampil di panggung Rock Against Racism. Tapi ketiadaan mediasi ideologis membuat panggung street punk jadi ruang kosong yang diperebutkan sosialisme jalanan dan fasisme jalanan sekaligus. Riwayat Skrewdriver membuktikan ke arah mana kekosongan itu bisa jatuh sepenuhnya bila dibiarkan tanpa organisasi tandingan.

Stuart Hall, dalam Policing the Crisis, menunjukkan bahwa akal sehat kelas pekerja Inggris tak pernah otomatis progresif ataupun reaksioner. Ia adalah artikulasi yang harus dimenangkan lewat perang posisi, bukan properti bawaan sebuah kelas. Street punk kalah dalam perang posisi itu bukan karena kelas pekerja secara inheren rasis. Ia kalah karena menolak—atas nama kemurnian jalanan—satu-satunya hal yang bisa memenangkannya: organisasi dan teori.

Anarcho-Punk: Koherensi yang Dibayar dengan Jarak

Anarcho-punk mengambil jalan sebaliknya. Dan justru di situ letak kontradiksinya sendiri.

Crass bukan sekadar band. Ia adalah kolektif seni yang menjadikan produksi kultural sebagai praksis politik itu sendiri. Label rekaman sendiri, Crass Records, berdiri 1979 setelah pabrik penekan piringan hitam menolak mencetak trek pembuka Feeding of the Five Thousand karena dianggap menghujat. Mereka membangun distribusi sendiri, menggelar gig amal untuk CND dan Wapping Autonomy Centre, dan melancarkan aksi langsung yang menembus jantung negara.

Pada 1983, Crass menyunting potongan pidato Thatcher dan Reagan menjadi rekaman telepon palsu soal Perang Falkland. Rekaman itu begitu meyakinkan sampai CIA dan MI6 sempat menyelidikinya sebagai kemungkinan operasi disinformasi KGB. Mereka bahkan memilih membubarkan diri pada Juli 1984, tepat setelah tampil di gig amal untuk buruh tambang yang sedang mogok. Penutupan itu menegaskan ke mana solidaritas mereka berpihak, sekalipun basis sosial mereka sendiri bukan proletariat industrial itu.

Ini bukan sekadar lirik yang berteori. Ini politik prefiguratif yang diwujudkan secara material—persis seperti dibayangkan tradisi anarkisme Kropotkin: membangun struktur alternatif di dalam cangkang masyarakat lama, bukan menunggu revolusi turun dari langit.

Tapi koherensi ideologis ini punya harga: jarak dari nestapa itu sendiri.

Basis sosial anarcho-punk—Crass sendiri lazim disebut "kolektif seni," banyak pentolannya berlatar counterculture 1960-an atau pendidikan seni—cenderung berasal dari fraksi terdidik-déclassé, bukan dari proletariat industrial tradisional yang justru diklaim street punk sebagai basisnya. Bourdieu akan menyebut ini perbedaan antara selera kemewahan dan selera keharusan: jarak estetis dari nestapa material adalah prasyarat, bukan produk sampingan, dari kemewahan untuk hidup menurut prinsip.

Menjadi vegan, pasifis, dan anti-hierarki secara penuh waktu, lalu berkeliling dengan etika DIY yang menolak logika pasar sepenuhnya, membutuhkan kelonggaran waktu dan sumber daya yang tak tersedia sama rata. Bagi seseorang yang hidup dari shift kerja dan sewa rumah susun yang menunggak, gaya hidup itu adalah kemewahan. Bahkan di dalam koherensi ideologisnya sendiri, kontradiksi kelas tidak lenyap hanya karena diberi nama; ia berpindah bentuk. Federici mengingatkan kita bahwa pembagian kerja reproduktif—siapa mencuci piring di rumah kolektif, siapa menanggung kerja emosional menjaga komune tetap hidup—jarang merata dengan sendirinya hanya karena komitmen ideologis terhadap kesetaraan diucapkan lantang.

Anarcho-punk memenangkan mediasi teoretis yang gagal dimiliki street punk. Ia tidak lantas memenangkan pembebasan dari seluruh hubungan produksi yang justru ia kritik.

Kontradiksi yang Mewarisi Diri

Percabangan ini melahirkan genre-genre turunan yang mewarisi kontradiksi yang sama, hanya dengan kostum musikal berbeda.

Dari sisi gelap street punk, trayek Skrewdriver menjadi cetak biru jaringan musik white power internasional yang terus beranak-pinak meski dilarang di banyak yurisdiksi.

Dari sisi anarcho-punk, Amebix dan Antisect pada pertengahan 1980-an mengawinkan politik dan estetika Crass dengan bobot sonik metal ekstrem—riff ala Motörhead, citra apokaliptik pasca-industrial—melahirkan crust punk. Gerakan ini kemudian beririsan dengan d-beat, dinamai dari pola drum khas band Discharge yang memadukan kemarahan punk dengan bobot metal dan keseriusan politik anti-perang, lalu menyebar ke Swedia, Jepang, dan seterusnya. Infrastruktur DIY, zine, dan politik feminis yang dirintis Poison Girls dan sayap perempuan Crass juga menurunkan garis keturunan tak langsung ke riot grrrl, sekalipun jalur paling langsungnya justru lewat DIY hardcore Amerika, bukan anarcho-punk Inggris sendiri.

Ketika Punk Mendarat di Indonesia

Kontradiksi yang sama ini tidak berhenti di Kepulauan Britania. Ia berpindah ke mana pun punk mendarat, dibentuk ulang oleh kondisi material setempat.

Di Bandung pada dekade 1990-an, skena bawah tanah yang berpusat di GOR Saparua menampung punk, Oi!, ska, hardcore, grindcore, dan metal dalam satu ruang dan infrastruktur yang sama. Pencampuran yang kemungkinan besar jarang terjadi di Inggris justru karena skala skena yang lebih kecil memaksa solidaritas lintas genre demi sekadar bertahan hidup.

Tapi bedanya bukan cuma soal skala. Pembantaian anti-komunis 1965 dan proyek depolitisasi Orde Baru membuat penamaan diri sebagai anarkis atau kiri di ruang publik Indonesia jauh lebih berbahaya ketimbang di Inggris. Di sana, anarkisme, sekalipun marjinal, tak pernah menjadi alasan pembantaian massal. Mediasi teoretis yang di Inggris diwakili Crass secara terang-terangan, di Indonesia harus bekerja secara implisit, bersembunyi di balik estetika tanpa pernah menyebut nama dirinya sendiri.

Dari Southall ke Banda Aceh: Mekanisme yang Sama

Dan bila di Inggris lembaga yang berebut memaknai akal sehat jalanan adalah Front Nasional dan aparat kepolisian negara, di Aceh lembaga itu adalah kekuasaan syariat.

Desember 2011, puluhan anak punk yang sedang menonton konser amal di Banda Aceh dijaring razia Wilayatul Hisbah. Rambut mohawk mereka dicukur paksa, dan mereka dikirim sepuluh hari ke sekolah kepolisian untuk "pembinaan moral." Wakil Wali Kota saat itu menyebut mereka meresahkan dan mengancam generasi muda. Kosakatanya, bila diterjemahkan ke bahasa Inggris tahun 1981, nyaris tak berbeda dari kepanikan moral yang dibedah Stuart Hall di halaman-halaman Policing the Crisis. Institusinya berganti, dari nasionalisme rasial ke otoritas keagamaan-birokratis. Mekanismenya—menangkap tubuh yang tampil berbeda, lalu mendisiplinkannya kembali ke dalam norma atas nama menyelamatkan generasi berikutnya—tetap sama persis.

Nostalgia dan Hauntologi

Hari ini, kedua arus itu hidup terutama sebagai arsip yang dijual kembali. Street punk menjadi genre nostalgia yang aman dikonsumsi lewat streaming dan gerai fesyen. Anarcho-punk pun tak luput: jaket penuh patch dan estetika crust kini tersedia sebagai barang dagangan, sementara politik substantif di baliknya perlahan dikosongkan maknanya.

Mark Fisher akan menyebut ini hauntology—dalam realisme kapitalis, tak ada lagi bentuk kultural baru yang bisa lahir; yang tersisa hanya daur ulang nostalgik atas masa depan yang sudah dibatalkan sejak semula.

Prekaritas yang Tergeneralisasi

Tapi ada kontradiksi lebih dalam yang tersembunyi di balik nostalgia ini. Pembedaan kelas yang memberi bentuk pada perpecahan 1977–1981—proletariat industrial tradisional versus intelegensia bohemian déclassé—sudah dibubarkan oleh empat dekade restrukturisasi neoliberal. Deindustrialisasi kini menyeluruh, bukan baru dimulai. Prekaritas kini digeneralisasi lewat ekonomi gig, bukan terkonsentrasi pada sisa kelas pekerja industrial.

Maka pilihan antara anarcho-punk dan street punk hari ini semakin jarang menandai posisi kelas yang berbeda secara material, dan semakin sering menjadi pilihan gaya hidup yang diambil dari kolam prekariat yang nyaris tak terbedakan satu sama lain. Ini bukan penyelesaian—bukan Aufhebung sebagai sintesis yang mendamaikan. Ini pembubaran tanah tempat kontradiksi itu dulu berpijak.

Kekosongan yang Tak Pernah Lenyap

Namun mekanisme yang melahirkan Southall dan Skrewdriver tidak ikut lenyap bersama tanah itu. Ia hanya pindah alamat.

Populisme sayap kanan hari ini, di berbagai negara, masih menjual dagangan yang sama persis: klaim atas otentisitas rakyat jelata yang tak di mediasi, melawan elite kosmopolitan yang digambarkan asing dan menjijikkan. Kekosongan yang dulu dibiarkan terbuka oleh street punk, kini diisi ulang dalam skala jauh lebih besar.

Yang tak berubah bukan musiknya. Yang tak berubah adalah siapa yang lebih dulu sampai ke akal sehat yang dibiarkan kosong. (*)

Referensi:

Declassified files, The National Archives, Kew: rekaman telepon palsu Crass soal Falklands (1983–1984)

HM Treasury: sanksi kontraterorisme terhadap Blood & Honour (Januari 2025)

AFP/ABC News: razia punk di Banda Aceh, 13–14 Desember 2011

The Guardian , Sunday Times , News of the World : kerusuhan Hambrough Tavern, Southall, 3–5 Juli 1981

The Observer , The Sunday Times : liputan "Thatchergate" (Januari 1984)

Crass: The Feeding of the Five Thousand  (1978), Stations of the Crass  (1979)