• 07 Jun, 2026

Eza T.U.T.A.B: Menjaga Denyut Punk Rock Garut dari Lini Bass

Eza T.U.T.A.B: Menjaga Denyut Punk Rock Garut dari Lini Bass

Mediamassa.id - Dalam sebuah band punk, perhatian sering kali tertuju pada sosok yang berdiri paling depan. Vokalis yang berteriak ke arah penonton, gitaris yang melepaskan riff-riff kasar, atau drummer yang menghantam tempo tanpa ampun. Namun di balik semua kebisingan itu, selalu ada satu elemen yang menjaga semuanya tetap menyatu.

Di T.U.T.A.B, peran itu dijalankan oleh Eza.

135957.jpg

Sebagai basis, namanya mungkin tidak sekeras Bono di lini vokal atau seidentik Emoh dengan gitarnya. Namun di balik setiap lagu T.U.T.A.B, ada frekuensi bawah yang terus bergerak, menjaga ritme tetap hidup dan menjadi pondasi bagi energi punk rock yang sudah bertahan hampir tiga dekade.

Eza bukan bagian dari formasi awal T.U.T.A.B yang berdiri pada 1996. Sebelum dirinya, posisi bass diisi oleh Abach, salah satu personil generasi pertama yang ikut membangun karakter awal band punk asal Garut tersebut.

Masuk ke band yang sudah memiliki sejarah panjang tentu bukan perkara sederhana. Apalagi ketika harus mengisi posisi yang pernah ditempati sosok yang memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan band.

Namun Eza mengaku sejak awal tidak pernah melihat dirinya sebagai pengganti.

"Saya nggak pernah berpikir menggantikan Abach. Posisi boleh sama, tapi orangnya berbeda. Yang saya lakukan cuma melanjutkan apa yang sudah dibangun sebelumnya dan berusaha memberi kontribusi dengan cara saya sendiri," ujar Eza.

Pandangan itu menjadi alasan mengapa proses adaptasinya berjalan relatif alami. Ia tidak datang dengan ambisi mengubah arah band atau menciptakan identitas baru. Sebaliknya, ia memilih memahami karakter yang sudah dibangun T.U.T.A.B selama bertahun-tahun.

"T.U.T.A.B sudah punya identitas jauh sebelum saya masuk. Tugas saya bukan mengubah itu, tapi menjaga supaya identitas itu tetap hidup."

Di lingkungan underground, sikap semacam itu sering kali jauh lebih dihargai dibanding sekadar kemampuan teknis. Karena skena dibangun bukan hanya oleh musik, tetapi juga oleh penghormatan terhadap sejarah dan orang-orang yang pernah menjadi bagian darinya.

Jika Bono dan Joy menjadi suara yang menyampaikan pesan, sementara Emoh menghadirkan karakter kasar lewat gitar, maka Eza memainkan peran yang lebih sunyi namun tak kalah penting.

Bass di tangannya tidak pernah berusaha mencuri perhatian. Ia lebih memilih menjadi fondasi.

Menurutnya, itulah fungsi utama seorang basis.

"Kalau vokal itu wajahnya band, bass itu denyutnya. Kadang nggak terlalu kelihatan, tapi kalau hilang pasti terasa. Saya lebih senang memainkan peran itu."

Di atas panggung, Eza memang bukan tipe musisi yang paling ekspresif. Ia tidak banyak melakukan atraksi atau mencari sorotan. Namun justru di situlah kenyamanannya.

"Saya nggak pernah kepikiran harus jadi orang yang paling terlihat di panggung. Yang penting lagu berjalan, energi nyambung, dan penonton bisa merasakan apa yang kami mainkan."

Pendekatan itu sangat selaras dengan semangat punk yang selama ini dipegang T.U.T.A.B. Tidak berlebihan. Tidak dibuat-buat. Yang penting jujur.

Masuk ke T.U.T.A.B juga berarti masuk ke dalam sejarah panjang skena bawah tanah Garut.

Band ini lahir pada masa ketika musik underground masih bergerak melalui jaringan pertemanan dan komunitas kecil. Era ketika poster gigs dicetak dengan fotokopian hitam-putih, demo direkam dengan peralatan seadanya, dan informasi acara menyebar dari satu tongkrongan ke tongkrongan lain.

Bagi Eza, warisan itu justru menjadi alasan kenapa T.U.T.A.B tetap relevan sampai sekarang.

Karena yang dipertahankan bukan hanya lagu-lagu lama, melainkan nilai-nilai yang membentuk band tersebut sejak awal.

"Bikin band mungkin satu hari jadi. Tapi mempertahankan band sampai puluhan tahun itu cerita lain. Banyak yang harus dilewati, dari urusan pribadi, pekerjaan, keluarga, sampai perubahan zaman."

Pernyataan itu terasa masuk akal jika melihat perjalanan T.U.T.A.B. Selama hampir tiga dekade, mereka melewati pergantian personil, perubahan tren musik, hingga pergeseran generasi di skena.

Namun band ini tetap bertahan.

Dan menurut Eza, itu bukan semata soal musik.

“Saya selalu bilang, yang luar biasa itu bukan cuma karena band ini masih ada. Tapi karena orang-orang di dalamnya masih mau berkumpul, latihan, bikin lagu, dan manggung bersama setelah sekian lama.”

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola konsumsi musik, banyak hal memang berubah. Musik kini lebih mudah diproduksi dan didistribusikan. Siapa pun bisa mengunggah lagu dan menjangkau pendengar dalam hitungan detik.

Namun bagi Eza, ada hal-hal yang tidak boleh hilang.

Salah satunya adalah semangat komunitas yang sejak dulu menjadi tulang punggung skena bawah tanah.

Ia percaya bahwa underground bukan hanya soal genre musik, melainkan soal hubungan antar manusia yang tumbuh di dalamnya.

"Di underground kita belajar banyak hal. Loyalitas, solidaritas, saling bantu. Jadi yang bikin bertahan bukan cuma musiknya, tapi orang-orangnya juga."

Karena itulah ia masih tetap berada di jalur yang sama hingga hari ini.

Bukan karena tidak memiliki pilihan lain, melainkan karena di sanalah ia merasa menemukan rumahnya.

"Karena dari dulu memang rumahnya di sini. Nggak pernah kepikiran ke mana-mana lagi," katanya sambil tertawa.

Kini, sebagai bagian dari formasi T.U.T.A.B bersama Bono, Joy, Emoh, dan Roy, Eza terus memainkan perannya menjaga denyut bawah band tetap hidup.

Mungkin namanya tidak selalu menjadi yang pertama disebut. Mungkin posisinya tidak selalu berada di garis depan panggung.

Namun seperti bass dalam musik punk, keberadaannya selalu terasa.

Dan selama masih ada panggung kecil yang menyala, amplifier yang berdengung, serta komunitas yang berkumpul di depan panggung, Eza akan tetap berada di sana.

Menjaga frekuensi bawah.

Menjaga pondasi.

Menjaga agar denyut punk rock Garut yang telah hidup sejak 1996 terus berdetak dari generasi ke generasi.

"Selama masih ada panggung kecil, masih ada ampli yang bisa dinyalakan, dan masih ada teman-teman yang datang ke gigs, saya rasa T.U.T.A.B akan tetap hidup. Dan saya bangga bisa jadi bagian dari perjalanan itu," tutup Eza. (*)