Mediamassa.id – Sejumlah pelaku dan komunitas pesepeda di Kabupaten Garut berencana menggelar Critical Mass, sebuah gerakan bersepeda bersama yang selama puluhan tahun dikenal di berbagai kota di dunia sebagai simbol solidaritas antarpesepeda sekaligus kampanye bahwa pesepeda memiliki hak yang sama untuk menggunakan jalan raya.
Rencananya, kegiatan tersebut akan digelar setiap Jumat terakhir setiap bulan dan terbuka bagi seluruh pengguna sepeda, mulai dari BMX, MTB, road bike, fixed gear, sepeda lipat, hingga pesepeda rekreasional. Seluruh komunitas diajak berkumpul dalam satu irama kayuhan, tanpa membedakan jenis sepeda maupun latar belakang komunitas.
Menurut para penggagasnya, Critical Mass bukan sekadar agenda gowes bersama. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi antarkomunitas, membangun budaya saling menghormati di jalan raya, serta mengajak masyarakat melihat sepeda sebagai bagian dari sistem transportasi yang sah.
"Ini bukan kegiatan milik satu komunitas tertentu. Semua pesepeda bisa ikut. Yang kami bangun adalah semangat kebersamaan dan kesadaran bahwa jalan raya adalah ruang bersama," ujar salah seorang penggagas.
Critical Mass pertama kali muncul di San Francisco, Amerika Serikat, pada September 1992. Sejak saat itu, gerakan ini berkembang ke ratusan kota di berbagai negara dan umumnya digelar setiap Jumat terakhir setiap bulan. Tidak ada organisasi pusat yang mengatur penyelenggaraannya. Setiap kota mengelolanya secara mandiri sesuai semangat komunitas.
Gerakan ini lahir dari kesadaran sederhana bahwa pesepeda sering kali dianggap sebagai pengguna jalan kelas dua, padahal sepeda merupakan kendaraan yang sah digunakan di jalan umum. Dari sanalah kemudian lahir slogan yang hingga kini melekat dengan Critical Mass, yakni "We Are Traffic".
Slogan tersebut memiliki makna yang kuat. "We Are Traffic" bukan berarti pesepeda ingin menguasai jalan atau menghambat kendaraan lain, melainkan menegaskan bahwa pesepeda adalah bagian dari lalu lintas itu sendiri. Jalan raya bukan hanya milik mobil dan sepeda motor, tetapi merupakan ruang publik yang harus dapat digunakan secara setara oleh seluruh pengguna jalan.
Di Indonesia, prinsip tersebut juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Dalam regulasi tersebut, sepeda dikategorikan sebagai kendaraan tidak bermotor, sehingga memiliki hak untuk menggunakan jalan sesuai ketentuan yang berlaku. Artinya, keberadaan pesepeda di jalan raya bukanlah bentuk toleransi dari pengguna kendaraan bermotor, melainkan hak yang dijamin dalam sistem lalu lintas nasional.
Meski demikian, realitas di lapangan masih menunjukkan berbagai tantangan. Jalur sepeda masih sangat terbatas, infrastruktur belum ramah bagi pesepeda, sementara kesadaran sebagian pengguna jalan untuk berbagi ruang juga masih perlu terus dibangun. Tidak sedikit pesepeda yang masih dipandang mengganggu arus kendaraan bermotor ketika menggunakan badan jalan.
Karena itu, Critical Mass lebih dikenal sebagai kampanye damai daripada aksi demonstrasi. Dengan bersepeda bersama, para peserta ingin menunjukkan bahwa jumlah pesepeda juga cukup besar dan mereka layak mendapatkan ruang yang aman serta penghormatan yang sama sebagai pengguna jalan.
Selain menyuarakan hak pesepeda, kegiatan ini diharapkan menjadi wadah silaturahmi bagi seluruh komunitas sepeda di Garut. BMX, MTB, road bike, fixed gear, sepeda lipat, hingga komunitas sepeda santai diharapkan dapat berbaur tanpa sekat, memperkuat jejaring, sekaligus memperkenalkan budaya bersepeda kepada masyarakat yang lebih luas.
Para penggagas berharap Critical Mass dapat menjadi agenda rutin yang tumbuh dari komunitas untuk komunitas. Tidak hanya menghadirkan suasana kebersamaan, tetapi juga mendorong semakin banyak warga menjadikan sepeda sebagai sarana olahraga, rekreasi, maupun transportasi sehari-hari yang ramah lingkungan.
Lebih jauh, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa pembangunan kota semestinya tidak hanya berorientasi pada kendaraan bermotor. Kehadiran jalur sepeda, ruang publik yang aman, serta kebijakan transportasi yang inklusif merupakan bagian penting dalam menciptakan kota yang sehat, berkelanjutan, dan menghargai seluruh penggunanya.
Bagi para pelaku dan komunitas pesepeda di Garut, Critical Mass bukan sekadar tentang mengayuh sepeda bersama di penghujung bulan. Gerakan ini adalah pernyataan bahwa jalan raya merupakan ruang milik bersama.
Sebagaimana semangat yang diusung selama lebih dari tiga dekade di berbagai belahan dunia, "We Are Traffic" menjadi pengingat bahwa pesepeda bukan tamu di jalan raya, melainkan bagian yang sah dari lalu lintas itu sendiri. (*)