Ramadhan di Tengah Ujian Kemanusiaan
Refleksi Idulfitri 1447 H Oleh: dr. H. Helmi Budiman Ketua PMI Kabupaten Garut
Oleh: Ir. H. Dede Salahudin, M.M
Mediamassa.id - Ramadhan tahun ini datang tidak dalam situasi yang biasa. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Ketika konflik geopolitik kembali memanas, ketika ketegangan global meningkat, dan ketika ketidakpastian ekonomi merambah hingga ke ruang-ruang paling personal kehidupan masyarakat—Ramadhan hadir sebagai jeda yang terasa kontras.
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan sekadar persoalan kawasan. Ia adalah refleksi dari dunia yang belum selesai dengan ambisi kekuasaan, dominasi sumber daya, dan logika “siapa kuat dia menang”.
Dalam konteks seperti ini, saya melihat Ramadhan bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi momentum untuk membaca ulang realitas. Ramadhan mengajarkan kita menahan diri—sesuatu yang justru hilang dari wajah dunia hari ini.
Gejolak global selalu punya pola yang sama: ketika energi terganggu, ketika distribusi tersendat, maka yang pertama terdampak adalah kebutuhan dasar—pangan. Kita menyaksikan bagaimana konflik global bisa memicu lonjakan harga, inflasi, hingga terganggunya rantai pasok. Dan pada titik itu, kita dipaksa untuk jujur: bahwa selama ini kita terlalu bergantung.
Bergantung pada impor.
Bergantung pada sistem global.
Bergantung pada mekanisme yang tidak sepenuhnya kita kendalikan.
Ketergantungan itu, dalam situasi normal mungkin terasa aman. Tapi dalam krisis, ia berubah menjadi kerentanan. Di sinilah kemandirian menjadi sangat penting—bukan sebagai slogan, tetapi sebagai kebutuhan mendasar.
Ramadhan sesungguhnya bukan hanya melatih lapar dan haus. Ia melatih cara pandang. Di tengah dunia yang didorong oleh hasrat menguasai—menguasai pasar, menguasai sumber daya, bahkan menguasai manusia lain—Ramadhan justru mengajarkan sebaliknya: menahan, berbagi, dan merawat.
Ini bukan sekadar nilai spiritual. Ini adalah fondasi etika yang seharusnya juga hadir dalam kebijakan publik. Sebab perang tidak lahir dari kekurangan, tetapi dari keserakahan. Dan keserakahan itu hanya bisa dikendalikan jika manusia mampu menahan diri.
Di tengah sistem global yang rapuh, kita sering lupa bahwa kekuatan justru ada di level paling dasar: desa. Sebagai Sekretaris Forum Ketahanan dan Kemandirian Pangan Masyarakat Desa (FK2PMD) Kabupaten Garut, Sekretaris Umum PM GATRA (Paguyuban Masyarakat Garut Utara), dan Sekretaris Watch Relation of Corruption, saya melihat bahwa desa bukanlah sisa pembangunan—melainkan fondasi masa depan.
Desa memiliki sumber daya. Desa memiliki manusia. Desa memiliki kearifan. Yang sering kurang adalah keberpihakan sistem. Jika desa diperkuat—dari produksi hingga distribusi pangan—maka kita tidak akan terlalu mudah goyah oleh gejolak global. Kemandirian bukan berarti menutup diri, tetapi memiliki kemampuan untuk bertahan.
Idulfitri sering dimaknai sebagai kemenangan. Tapi kemenangan seperti apa? Apakah kita benar-benar kembali pada fitrah? Atau hanya kembali pada kebiasaan lama? Momentum Ramadhan dan Idulfitri seharusnya tidak berhenti pada aspek spiritual semata. Ia harus menjadi titik balik—untuk merumuskan ulang arah kehidupan, baik secara individu maupun kolektif.
Kita dihadapkan pada pilihan: tetap berada dalam pola ketergantungan, atau mulai membangun kemandirian.
Sebagai bagian dari masyarakat Kabupaten Garut, saya melihat potensi besar yang kita miliki. Pertanian, peternakan, dan kekayaan pangan lokal bukan hanya aset ekonomi, tetapi fondasi kedaulatan. Jika desa kuat, maka daerah kuat. Jika daerah kuat, maka bangsa tidak akan mudah goyah, bahkan di tengah krisis global sekalipun.
Pada akhirnya, Ramadhan adalah latihan. Idulfitri adalah pengingat. Tapi kehidupan setelahnya adalah ujian. Di situlah kita akan melihat: apakah nilai-nilai yang kita jalani selama Ramadhan benar-benar hidup, atau hanya berhenti sebagai ritual tahunan.
Dunia mungkin tidak akan langsung berubah. Konflik mungkin tidak akan segera selesai. Ketimpangan mungkin masih akan terus ada. Namun perubahan selalu dimulai dari kesadaran.
Dan mungkin, di tengah dunia yang terus berisik oleh konflik, yang paling kita butuhkan hari ini bukan sekadar kekuatan—melainkan kesadaran. (*)
Refleksi Idulfitri 1447 H Oleh: dr. H. Helmi Budiman Ketua PMI Kabupaten Garut
Oleh: Deden Sopian, S.HI