Belakangan ini, ada satu kalimat yang terdengar semakin sering di ruang-ruang diskusi, media sosial, hingga kolom komentar.
"Mana datanya?"
Kalimat yang sebenarnya sehat.
Bahkan sangat sehat.
Sebab tanpa data, sebuah pernyataan memang hanya akan menjadi dugaan. Tanpa data, kritik mudah berubah menjadi prasangka. Tanpa data, pujian pun bisa menjelma propaganda.
Masalahnya, belakangan data mulai diperlakukan seperti agama baru.
Seolah-olah semua hal harus diukur dengan angka. Seakan-akan segala sesuatu yang tak bisa dimasukkan ke tabel Excel otomatis kehilangan nilai.
Padahal hidup tidak selalu lahir dari spreadsheet.
Ada seorang ibu yang menangis karena anaknya kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.
"Mana datanya?" tanya seseorang.
Ada petani yang mengeluh hasil panennya terus menurun.
"Mana datanya?"
Ada warga yang mengaku jalan rusak bertahun-tahun.
"Mana datanya?"
Lucunya, ketika data akhirnya datang, giliran muncul pertanyaan baru.
"Sumbernya apa?"
Ketika sumber dijelaskan, muncul lagi.
"Metodenya bagaimana?"
Setelah metodologi dijelaskan.
"Datanya sudah diperbarui belum?"
Lalu ketika semua sudah lengkap...
..."Ya, tapi menurut saya tetap tidak begitu."
Akhirnya kita sadar.
Yang dicari bukan data.
Melainkan pembenaran.
Data memang penting.
Sangat penting.
Tetapi jurnalisme tidak pernah dibangun hanya oleh angka.
Ia juga lahir dari sepasang mata yang melihat.
Sepasang telinga yang mendengar.
Sepasang kaki yang mau datang ke lokasi.
Dan keberanian bertanya kepada mereka yang sering tidak pernah ditanya.
Data bisa menjelaskan berapa persen angka kemiskinan.
Tetapi data tidak pernah bisa menunjukkan bagaimana rasanya menjadi miskin.
Data bisa menghitung jumlah pengangguran.
Tetapi tidak bisa menggambarkan wajah seorang ayah yang pulang tanpa pekerjaan.
Data dapat mencatat jumlah sekolah rusak.
Namun tidak pernah mampu menceritakan bau lembap ruang kelas yang bocor saat hujan.
Di situlah jurnalisme bekerja.
Menghubungkan angka dengan manusia.
Ironisnya, ada sebagian orang yang baru merasa menjadi jurnalis setelah berhasil membuka dashboard statistik.
Semakin banyak grafik, semakin ilmiah.
Semakin rumit visualisasi, semakin dipercaya.
Seolah infografik lebih penting daripada investigasi.
Padahal grafik hanya menjawab "berapa".
Sedangkan jurnalisme bertugas menjawab "mengapa".
Jurnalisme data bukan musuh.
Justru ia adalah salah satu pencapaian terbaik dalam dunia pers modern.
Ia membantu membongkar korupsi.
Mengungkap ketimpangan.
Menjelaskan tren yang sebelumnya tidak terlihat.
Namun ketika semua berita dipaksa menjadi grafik, kita mulai kehilangan manusia di balik angka.
Yang tersisa hanyalah diagram.
Barangkali kita memang membutuhkan lebih banyak data.
Tetapi kita juga membutuhkan lebih banyak empati.
Lebih banyak verifikasi.
Lebih banyak liputan lapangan.
Lebih banyak percakapan dengan mereka yang namanya bahkan tidak pernah muncul dalam laporan statistik.
Sebab pada akhirnya, jurnalisme bukan sedang berlomba menghasilkan grafik yang paling indah.
Melainkan menjelaskan kenyataan dengan cara yang paling jujur.
Mungkin itu sebabnya kami menyebut diri sebagai jurnalis kambuhan.
Kami kambuh ketika melihat kebijakan yang membingungkan.
Kambuh ketika menemukan suara-suara kecil yang tertutup hiruk-pikuk viralitas.
Kambuh ketika fakta mulai kalah oleh narasi.
Dan kami percaya, data adalah kompas yang penting.
Tetapi kompas tidak pernah bisa menggantikan perjalanan.
Sebab jurnalisme bukan hanya soal menemukan angka.
Melainkan menemukan manusia yang selama ini tersembunyi di balik angka itu. (*)