Mediamassa.id - Tidak banyak musisi yang bisa kembali ke band lamanya setelah belasan tahun berpisah dan langsung menemukan tempatnya lagi. Namun itulah yang terjadi pada Joy, salah satu personil T.U.T.A.B, band punk rock asal Garut yang berdiri sejak 1996 dan menjadi bagian penting dari sejarah skena bawah tanah kota itu.
Bagi generasi awal T.U.T.A.B, Joy bukanlah wajah baru. Ia adalah bagian dari formasi yang ikut membangun identitas band pada masa-masa awal. Saat itu, Joy dikenal sebagai drummer T.U.T.A.B, mengisi lini ritmis dalam periode ketika band ini masih tumbuh bersama geliat punk lokal yang serba sederhana, mandiri, dan jauh dari sorotan industri musik.
Namun pada tahun 2002, Joy memutuskan vakum dari band. Keputusan itu membuat dirinya tidak lagi aktif bersama T.U.T.A.B selama kurang lebih 16 tahun. Sebuah rentang waktu yang panjang, bahkan lebih lama daripada usia banyak band yang lahir kemudian.
Meski tidak lagi berada di atas panggung bersama T.U.T.A.B, hubungan Joy dengan komunitas dan teman-teman lamanya tidak pernah benar-benar terputus. Ia tetap mengikuti perkembangan skena, tetap berkomunikasi dengan para personil, dan tetap menyimpan kedekatan emosional dengan band yang ikut membesarkan namanya.
Karena itu, ketika kesempatan untuk kembali datang pada 2018, prosesnya terasa begitu alami.
“Awalnya cuma ngobrol-ngobrol biasa sama teman-teman. Terus latihan lagi. Lama-lama ya terasa kalau chemistry-nya masih ada,” kenang Joy.
Apa yang awalnya hanya pertemuan biasa kemudian berkembang menjadi keputusan untuk kembali aktif bersama T.U.T.A.B. Sejak saat itu hingga sekarang, Joy kembali menjadi bagian dari perjalanan band yang sudah memasuki usia tiga dekade tersebut.
Menariknya, ketika kembali bergabung, Joy tidak sepenuhnya menjalankan peran yang sama seperti dulu.
Jika pada era awal ia dikenal sebagai drummer, kini perannya berkembang menjadi lebih fleksibel. Bersama Roy, ia masih sesekali mengisi posisi drum, terutama saat membawakan lagu-lagu lama yang lahir pada masa ketika dirinya masih aktif di dalam band. Namun seiring waktu, Joy justru lebih sering terlihat berdiri di depan panggung, membantu Bono mengisi lini vokal.
Perubahan itu terjadi bukan karena kehilangan semangat, melainkan karena kesadaran bahwa waktu memang berjalan.
“Faktor umur, lah,” ujar Joy sambil tertawa. “Kalau lagu-lagu baru T.U.T.A.B yang beat-nya makin ngebut, saya sudah mulai ngos-ngosan ngikutinnya. Jadi sekarang saya berbagi tugas sama Roy di drum. Paling yang masih nyaman saya bawain itu lagu-lagu awal T.U.T.A.B zaman saya masih aktif dulu. Itu juga kadang sambil ngingetin lutut supaya jangan protes.”
Candaannya langsung disambut tawa rekan-rekannya. Namun di balik kelakar itu, tersimpan kenyataan yang lumrah dialami banyak musisi yang telah bertahan puluhan tahun di jalur underground. Energi fisik mungkin berubah, tetapi semangat untuk tetap berkarya tidak ikut menghilang.
Bagi Joy, membantu Bono sebagai vokalis justru membuka ruang baru dalam perjalanan bermusiknya. Ia tetap bisa menjadi bagian dari energi T.U.T.A.B di atas panggung, tetap berinteraksi dengan crowd, dan tetap menyalurkan semangat yang sama seperti ketika pertama kali bergabung puluhan tahun lalu.
“Yang bikin saya balik sebenarnya bukan cuma musik,” kata Joy. “Tapi orang-orangnya. Persaudaraannya. Itu yang susah dicari di tempat lain.”
Pernyataan itu mungkin menjadi alasan paling kuat mengapa banyak band underground mampu bertahan begitu lama. Di luar urusan musik, ada ikatan pertemanan dan solidaritas yang sering kali jauh lebih penting daripada popularitas.
Joy menyaksikan sendiri bagaimana T.U.T.A.B dan skena Garut berkembang dari era kaset demo, poster fotokopian, hingga zaman media sosial dan platform digital. Ia melihat banyak band muncul, berkembang, lalu menghilang. Ia juga melihat bagaimana kultur musik berubah mengikuti zaman.
Namun menurutnya, ada satu hal yang tidak boleh berubah.
“Sekarang akses bikin musik jauh lebih gampang. Rekaman gampang, promosi gampang. Tapi jangan sampai gampang juga lupa sama akar,” ujarnya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menjadi refleksi perjalanan panjang seorang musisi yang telah hidup di dua era berbeda: era ketika musik bawah tanah benar-benar bergerak dari bawah, dan era ketika semua bisa tersebar dalam hitungan detik melalui internet.
Kini, setelah kembali sejak 2018, Joy kembali menjadi bagian penting dari T.U.T.A.B. Tidak lagi hanya sebagai drummer seperti dulu, tetapi juga sebagai vokalis pendamping yang membantu memperkuat karakter panggung band. Bersama Bono, Roy, Emoh, dan Eza, ia menjadi bagian dari formasi yang terus menjaga nyala punk rock Garut tetap hidup.
Dan bagi Joy, kembali ke T.U.T.A.B bukan sekadar reuni atau nostalgia masa muda.
Ini adalah tentang melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Tentang kembali ke tempat yang membentuk sebagian besar hidupnya. Tentang memastikan bahwa api yang dinyalakan pada 1996 masih tetap menyala hingga hari ini. (*)
Sumber:
Wawancara dan obrolan komunitas bersama Joy T.U.T.A.B, Garut, Mei 2026. Data perjalanan T.U.T.A.B sebagai band punk asal Garut sejak 1996 turut disebut dalam arsip podcast Pustaka Musik.