• 18 Jun, 2026

HDDS 2026, Helmi Budiman: Donor Darah Harus Jadi Gaya Hidup

HDDS 2026, Helmi Budiman: Donor Darah Harus Jadi Gaya Hidup

Mediamassa.id – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Garut memperingati Hari Donor Darah Sedunia (HDDS) 2026 dengan menggelar kegiatan apresiasi bagi para pendonor sukarela serta mengajak masyarakat menjadikan donor darah sebagai bagian dari gaya hidup dan budaya kemanusiaan. Kegiatan tersebut juga menjadi momentum penghargaan bagi para pendonor yang telah berkontribusi menjaga ketersediaan darah bagi masyarakat.

Ketua PMI Kabupaten Garut, dr. Helmi Budiman, menegaskan bahwa donor darah tidak boleh hanya dilakukan pada momen-momen tertentu, melainkan harus menjadi kebiasaan yang dilakukan secara rutin oleh masyarakat.

"Donor darah harus menjadi gaya hidup. Selain bermanfaat bagi kesehatan pendonor, yang paling penting adalah membantu menyelamatkan nyawa sesama. Setiap kantong darah yang didonorkan memiliki nilai kemanusiaan yang sangat besar," ujar Helmi, Selasa (16/6/2026).

Menurutnya, kebutuhan darah di Kabupaten Garut terus ada setiap hari untuk berbagai keperluan medis, mulai dari pasien thalasemia, ibu melahirkan, korban kecelakaan hingga pasien yang menjalani operasi.

Sementara itu, Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Kabupaten Garut, dr. Iwan Irawan, mengatakan keberhasilan pelayanan darah sangat bergantung pada kepedulian masyarakat sebagai pendonor sukarela.

"Kami membutuhkan pendonor yang rutin dan berkelanjutan. Darah tidak bisa diproduksi di pabrik, sehingga satu-satunya sumber darah berasal dari manusia yang dengan sukarela mendonorkan darahnya," kata Iwan.

Dalam peringatan tersebut, PMI Garut juga menghadirkan kisah para penerima manfaat donor darah. Salah satunya Novi, penyintas thalasemia yang harus menjalani transfusi darah secara berkala.

Bagi Novi, donor darah bukan hanya aksi sosial, tetapi menjadi harapan yang memungkinkan dirinya terus menjalani kehidupan.

"Saya sangat berterima kasih kepada para pendonor darah. Karena donor darah dari mereka, saya dan banyak penyintas thalasemia lainnya bisa terus hidup, bersekolah, bekerja, dan beraktivitas seperti orang lain," ungkapnya.

Pengurus PMI Kabupaten Garut, Pipin R. Suprijadi, menilai Hari Donor Darah Sedunia menjadi pengingat pentingnya semangat gotong royong dan solidaritas kemanusiaan.

"Donor darah adalah bentuk kepedulian yang paling sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Satu kantong darah bisa menjadi harapan bagi mereka yang sedang berjuang untuk hidup," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, PMI Kabupaten Garut memberikan penghargaan kepada para pendonor sukarela yang telah mendonorkan darahnya puluhan hingga ratusan kali. Sertifikat penghargaan diserahkan langsung oleh Ketua PMI Kabupaten Garut, dr. Helmi Budiman, kepada para pendonor yang dinilai telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam gerakan kemanusiaan.

Salah satu penerima penghargaan adalah Uus Rusdi, yang telah mendonorkan darahnya sebanyak 100 kali. Uus mengaku tidak pernah membayangkan akan mencapai angka tersebut ketika pertama kali menjadi pendonor.

"Awalnya saya hanya ingin membantu sesama. Lama-kelamaan donor darah menjadi kebiasaan dan bagian dari kehidupan saya. Kalau kondisi kesehatan masih memungkinkan, saya akan terus mendonor karena saya tahu darah yang kita berikan sangat dibutuhkan orang lain," tuturnya.

Penghargaan juga diberikan kepada Rahmat Aziz, pendonor sukarela yang telah mendonorkan darahnya sebanyak 75 kali. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tergerak untuk menjadi pendonor rutin.

"Donor darah itu tidak sulit. Yang dibutuhkan hanya niat dan kepedulian. Saya berharap semakin banyak masyarakat yang mau mendonor karena manfaatnya sangat besar bagi mereka yang membutuhkan," kata Rahmat.

Peringatan Hari Donor Darah Sedunia 2026 di Kabupaten Garut menjadi pengingat bahwa darah tidak dapat dibuat atau diproduksi secara buatan. Karena itu, keberlangsungan pelayanan transfusi darah sangat bergantung pada kepedulian para pendonor sukarela.

Melalui momentum ini, PMI Kabupaten Garut berharap semakin banyak masyarakat yang menjadikan donor darah sebagai budaya dan gaya hidup, sehingga kebutuhan darah bagi pasien di Garut dapat terus terpenuhi dan lebih banyak nyawa dapat diselamatkan. (*)