Mediamassa.id – Dalam sejarah panjang T.U.T.A.B, setiap personel meninggalkan jejaknya masing-masing. Namun hanya sedikit yang tidak hanya menjadi pengisi formasi, melainkan ikut membentuk cara sebuah band berpikir, bersikap, dan memandang realitas. Sosok itu adalah Erwin Rustandi Widiagiri, yang akrab disapa Gobel.

Di kalangan skena bawah tanah Garut, Gobel dikenal bukan sekadar sebagai vokalis T.U.T.A.B. Ia juga merupakan salah satu penulis lirik, penggagas ide, dan sosok yang memberi warna kuat terhadap perkembangan karakter band ini. Bersama Bono, Emoh, Joy, Fajar, dan personel lainnya, Gobel ikut membangun T.U.T.A.B sejak 1996, tahun ketika band punk tersebut lahir di Garut.
Sejak awal, T.U.T.A.B memang lahir dari semangat punk yang sederhana: bermain musik, membangun persaudaraan, dan menyuarakan keresahan. Namun seiring perjalanan waktu, band ini berkembang menjadi kelompok yang semakin berani mengangkat berbagai persoalan sosial melalui karya-karyanya.
Di situlah peran Gobel semakin terasa.
Baginya, punk tidak pernah berhenti sebagai musik bertempo cepat dengan energi yang meledak-ledak. Punk adalah ruang untuk berpikir, mempertanyakan keadaan, dan menyampaikan kritik tanpa kehilangan keberpihakan kepada masyarakat.

Pemikiran itu kemudian tercermin dalam banyak lirik T.U.T.A.B. Tema-tema yang diangkat semakin luas, mulai dari ketimpangan sosial, persoalan ekonomi, praktik politik yang dianggap menjauh dari kepentingan rakyat, hingga berbagai bentuk ketidakadilan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
"Lagu bisa menjadi pengingat. Tidak harus selalu memberikan jawaban, tetapi setidaknya bisa mengajak orang berpikir," ujar Gobel.
Bersama Bono, dua karakter vokal di T.U.T.A.B saling melengkapi. Bono menghadirkan energi panggung yang eksplosif, sementara Gobel memperkuat narasi melalui pilihan kata dan sudut pandang yang lebih reflektif. Perpaduan keduanya membuat T.U.T.A.B bukan hanya dikenal karena musiknya, tetapi juga karena gagasan yang dibawa dalam setiap lagu.

Dalam setiap proses kreatif, diskusi menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Obrolan mengenai kehidupan masyarakat, ketimpangan ekonomi, kebijakan pemerintah, hingga dinamika politik sering berkembang menjadi lirik yang kemudian diteriakkan dari atas panggung.
Karena itu, karya-karya T.U.T.A.B pada periode tersebut semakin menunjukkan identitasnya sebagai band punk yang tidak sekadar mengajak bersenang-senang, tetapi juga mengajak pendengarnya berpikir.

Selama perjalanannya bersama T.U.T.A.B, Gobel ikut terlibat dalam sejumlah karya penting. Ia menjadi bagian dari album Anarchys The Destroyer (1998), The Power of Equality kemudian semakin aktif dalam proses kreatif album Injak Balik (2002) juga di album Sepuluh Tahun Kemudian di mana kontribusinya sebagai penulis lirik dan pengembang gagasan terasa semakin kuat.

Perannya tidak berhenti di situ.
Ketika T.U.T.A.B mulai menggarap album We Still Stand Here, Gobel masih terlibat dalam proses kreatif dan penulisan sejumlah lirik. Namun karena kesibukan profesional yang semakin padat, ia tidak dapat mengikuti keseluruhan proses rekaman hingga album tersebut selesai.
Di luar T.U.T.A.B, Gobel menjalani karier sebagai fotografer lepas untuk Associated Press (AP), salah satu kantor berita internasional terkemuka di dunia. Bersamaan dengan itu, ia juga aktif sebagai fotografer di Harian Umum Kabar Priangan, bagian dari Grup Pikiran Rakyat. Profesi jurnalistik membuat sebagian besar waktunya tersita di lapangan. Penugasan, peliputan, dan mobilitas tinggi membuatnya harus mengurangi aktivitas bersama band.

Meski demikian, hubungan Gobel dengan T.U.T.A.B tidak pernah benar-benar terputus.
Baginya, menjadi punk tidak bergantung pada seberapa sering seseorang tampil di atas panggung.
Punk adalah cara berpikir.
Punk adalah sikap hidup.
Dan pilihan hidup itu tetap ia pegang hingga hari ini.
Kesibukan sebagai pewarta foto tidak mengubah prinsip yang telah diyakininya sejak muda. Justru pengalaman meliput berbagai peristiwa sosial, kemanusiaan, dan politik memperkaya cara pandangnya terhadap kehidupan, yang pada akhirnya tetap memberi pengaruh pada gagasan-gagasan yang lahir untuk T.U.T.A.B.
Kini, menjelang usia 30 tahun T.U.T.A.B, Gobel kembali memberi kontribusi melalui medium yang berbeda.
Ia tengah menyelesaikan sebuah buku yang mendokumentasikan perjalanan T.U.T.A.B sejak berdiri pada 1996. Buku tersebut direncanakan diluncurkan bersamaan dengan album terbaru T.U.T.A.B pada September 2026.
Buku itu bukan sekadar kumpulan nostalgia. Melalui sudut pandang seorang pelaku, Gobel merekam sejarah band ini secara utuh: pergantian personel, proses kreatif, rekaman, panggung-panggung kecil, kultur Do It Yourself, hingga tumbuhnya skena bawah tanah Garut yang berjalan beriringan dengan perjalanan T.U.T.A.B.
Baginya, sejarah yang tidak ditulis akan perlahan menghilang.
Karena itu, ia memilih menjaga ingatan melalui tulisan.
Hari ini, Gobel mungkin tidak lagi berdiri di depan mikrofon seperti dulu. Namun gagasan, lirik, dokumentasi, dan pemikirannya tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan T.U.T.A.B.
Selain tetap aktif sebagai jurnalis foto lepas untuk Associated Press (AP), kini ia juga disibukkan dengan aktivitasnya sebagai jurnalis Pikiran Rakyat Garut. Dunia jurnalistik yang dijalaninya membuatnya semakin dekat dengan berbagai realitas sosial yang selama ini juga menjadi ruh dari lirik-lirik T.U.T.A.B.

Meski kesibukan pekerjaan hampir menyita seluruh waktunya, ada satu hal yang tidak berubah dalam dirinya: menjadi punk tetap merupakan pilihan hidup. Bagi Gobel, punk bukan sekadar genre musik atau identitas panggung, melainkan cara memandang kehidupan—tetap kritis, tetap berpihak pada kemanusiaan, dan tetap berani menyuarakan apa yang dianggap benar.
Sebab dalam sejarah hampir tiga dekade band ini, Erwin Rustandi Widiagiri bukan sekadar vokalis. Ia adalah penulis lirik, pengarsip sejarah, jurnalis, sekaligus salah satu sosok yang ikut membentuk jiwa T.U.T.A.B sebagai band punk yang tetap kritis, berpihak pada realitas, dan setia pada semangat Do It Yourself hingga hari ini. (*)
Sumber: Wawancara mediamassa.id bersama personel T.U.T.A.B dan dokumentasi perjalanan T.U.T.A.B, 2026.