Mediamassa.id – Dalam perjalanan panjang sebuah band, setiap personel membawa warna dan perannya masing-masing. Ada yang menjadi perintis, ada yang melanjutkan, dan ada pula yang mengisi babak-babak penting ketika sebuah band mulai menemukan identitasnya. Di T.U.T.A.B, nama Abach adalah salah satu bagian penting dari fase tersebut.

Jika Fajar menjadi bassis pertama T.U.T.A.B pada masa awal berdiri dan mengisi demo EP Ampar Pisang (1996), maka estafet itu kemudian diteruskan oleh Abach. Kehadirannya menjadi bagian dari perkembangan T.U.T.A.B ketika band ini mulai memasuki periode yang lebih matang, baik dari sisi musikal maupun gagasan yang ingin disampaikan.
Abach bergabung saat T.U.T.A.B mulai memperluas jangkauan bermusiknya. Bersama Bono, Joy, Emoh, dan kemudian Gobel, ia ikut membangun fondasi yang mengantarkan T.U.T.A.B dikenal sebagai salah satu band punk yang konsisten menyuarakan kritik sosial melalui karya-karyanya.
Di balik permainan bassnya yang kokoh, Abach menjadi pengikat ritme yang menyatu dengan gebukan drum Joy dan permainan gitar Emoh. Perannya mungkin tidak selalu berada di garis depan, tetapi justru menjadi fondasi yang membuat karakter musik T.U.T.A.B tetap solid.
Kontribusinya terdokumentasikan dalam tiga rilisan penting T.U.T.A.B.
Dimulai dari Anarchys The Destroyer yang dirilis melalui Kanch Production pada 1998. Album ini menjadi penanda berkembangnya identitas musikal T.U.T.A.B setelah melewati masa-masa awal sebagai band muda di skena bawah tanah Garut.
Perjalanan itu berlanjut melalui The Power of Equality yang dirilis oleh Tai Anjing Records pada 2000. Album ini menjadi salah satu tonggak penting karena memperlihatkan arah musikal T.U.T.A.B yang semakin matang sekaligus semakin berani menyuarakan kritik terhadap berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan politik melalui lirik-liriknya.
Kontribusi Abach kemudian berlanjut pada album Injak Balik yang dirilis pada 2002, juga melalui Tai Anjing Records. Album tersebut menjadi karya terakhirnya bersama T.U.T.A.B sebelum perjalanan band kembali memasuki fase perubahan formasi.
"Buat saya, T.U.T.A.B bukan cuma band. Di sana saya belajar arti kebersamaan, loyalitas, dan bagaimana semua orang saling menguatkan ketika menghadapi berbagai tantangan," kenang Abach.
Masa itu merupakan periode ketika segala sesuatu masih dilakukan secara mandiri. Rekaman, produksi kaset, distribusi, hingga perjalanan menuju panggung-panggung kecil dilakukan dengan semangat Do It Yourself yang menjadi napas kultur punk.
Tidak ada kemewahan.
Yang ada hanyalah semangat untuk terus berkarya.
Abach menjadi bagian dari generasi yang membangun T.U.T.A.B melalui proses tersebut. Bersama personel lainnya, ia melewati ruang latihan sederhana, perjalanan antarkota dengan segala keterbatasannya, hingga berbagai panggung yang mempertemukan mereka dengan komunitas punk dari berbagai daerah.
"Yang paling saya ingat justru bukan panggung besarnya, tetapi prosesnya. Latihan, bercanda, berangkat manggung rame-rame, semua itu yang membuat T.U.T.A.B terasa seperti keluarga," ujarnya.
Seiring berjalannya waktu, perjalanan hidup membawa Abach ke arah yang berbeda. Aktivitas di luar musik semakin padat hingga akhirnya ia memutuskan hiatus dari T.U.T.A.B.
Keputusan itu bukan karena adanya persoalan di dalam band, melainkan karena tuntutan kehidupan yang terus berkembang.
Kini, Abach lebih memusatkan perhatian pada bisnis kuliner yang dirintisnya. Dunia yang kini digelutinya memang jauh dari hingar-bingar panggung musik, tetapi semangat yang dibawanya tetap sama: membangun sesuatu dengan kerja keras, konsistensi, dan ketulusan.
"Sekarang saya fokus mengembangkan usaha. Tapi T.U.T.A.B akan selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup saya. Persaudaraan dengan teman-teman juga tetap terjaga sampai sekarang," tuturnya.
Meski tidak lagi aktif memainkan bass bersama T.U.T.A.B, komunikasi dengan para personel tetap berjalan. Sesekali mereka berkumpul, berbagi cerita, dan mengenang perjalanan panjang yang telah mereka lalui bersama.
Bagi T.U.T.A.B, itulah makna sesungguhnya dari sebuah band.
Bukan sekadar kumpulan orang yang bermain musik di atas panggung, melainkan sebuah keluarga yang dipersatukan oleh perjalanan panjang, karya, dan persahabatan.
Dalam sejarah hampir tiga dekade T.U.T.A.B, nama Abach akan selalu dikenang sebagai bassis yang melanjutkan tongkat estafet dari Fajar dan menjadi bagian dari tiga album penting: Anarchys The Destroyer, The Power of Equality, dan Injak Balik.
Melalui tiga karya itulah jejaknya tetap hidup, menjadi bagian dari perjalanan T.U.T.A.B yang terus dikenang hingga hari ini. (*)
Sumber: Wawancara mediamassa.id bersama personel T.U.T.A.B dan dokumentasi perjalanan band, 2026.